Di umur-umur segini, aku mulai sadar bahwa kegiatan yang tak kita bayangkan sebelumnya malah bisa menjadi solusi atas kebosanan, mumet, anxious, opo meneh? coba sebutno! pokoke uakeh!!!
Kegiatan kecil itu ya seperti sinau nggambar, sinau instrumen musik, sinau foto, sinau apa wae. Intinya adalah hal atau kegiatan yang sebelumnya kita belum pernah coba atau pernah menocab namun sudah lama. Nah inti dari intinya lagi (kalau macam bahasa politikus itu: core of the core! uopoh!!!) adalah belajar.
Ya, belajar adalah kebutuhan manusia (aku pernah baca atau dengar, tapi lupa siapa nama filsuf yang ngomong demikian). Pernah aku dengar di salah satu podcast seorang dokter, bahwa belajar hal baru entah apapun itu bentuknya dapat me-reroute jalur neuron di otak kita. Artinya, neuron otak menjelajahi ruang-ruang baru yang mungkin belum pernah terjamah sebelumnya. Entah studinya itu legit atau enggak, tapi yang penting menurutku adalah belajar hal baru dapat mengatasi berbagai perasaan gundah-gulana yang aku sebut di atas.
Nah kalau aku sendiri, hal yang menarik itu pada awal ketika mau mencoba: tapi susah sepertinya, belum pernah nggambar, belum pernah main musik, dll..
Entah pertanyaan skeptis itu muncul sebagai defense system dari rasa malas atau bagaimana. Tapi rasa-rasanya kok skeptis gitu macam writer blocks kalau pas mau nulis, bingung mau mulai dari mana, bingung mau milih kata apa. Padahal banyak penulis menyarankan: tulis saja dulu apa aja, ya tetap saja gak keluar itu kata-katanya.
Dari sini sih kupikir, yang menghambat kita mau belajar itu sebenarnya bukan karena kondisi lingkungan, fasilitas atau hal eksternal, tapi ya sebenarnya diri kita sendiri. Motivasi, itu kata kuncinya. Selain itu juga perfeksionis- perlu dibuang ini, satu-satunya hal yang sempurna adalah ketidaksempurnaan itu sendiri. Soalnya begini, seringkali kalau mau mencoret pertama kali pas nggambar, atau milih huruf di keyboard untuk kata pertama menulis, kalau aku sendiri sering membayangkan bentuk finalnya yang bagus atau idealkan. Pikiran kaya gini kalau bagiku sangat sangat perlu kubuang, karena itu justru sangat akan menghambat progress.
Entah pertanyaan skeptis itu muncul sebagai defense system dari rasa malas atau bagaimana. Tapi rasa-rasanya kok skeptis gitu macam writer blocks kalau pas mau nulis, bingung mau mulai dari mana, bingung mau milih kata apa. Padahal banyak penulis menyarankan: tulis saja dulu apa aja, ya tetap saja gak keluar itu kata-katanya.
Dari sini sih kupikir, yang menghambat kita mau belajar itu sebenarnya bukan karena kondisi lingkungan, fasilitas atau hal eksternal, tapi ya sebenarnya diri kita sendiri. Motivasi, itu kata kuncinya. Selain itu juga perfeksionis- perlu dibuang ini, satu-satunya hal yang sempurna adalah ketidaksempurnaan itu sendiri. Soalnya begini, seringkali kalau mau mencoret pertama kali pas nggambar, atau milih huruf di keyboard untuk kata pertama menulis, kalau aku sendiri sering membayangkan bentuk finalnya yang bagus atau idealkan. Pikiran kaya gini kalau bagiku sangat sangat perlu kubuang, karena itu justru sangat akan menghambat progress.
Nah lalu setelah itu mikir lagi, terus nanti kalau hasilnya jelek gimana? Ya tidak apa-apa, wong namanya kita juga belajar, bukan? yang perlu diingat adalah berdasarkan otak-atik-gathuk ku, kita di asia di Indonesia, di Jawa khususnya, hidup di iklim yang komeptitif sejak dini. Dari bangku sekolah kemampuan kita memahami literasi numerasi sudah dinilai, lanjut di lingkungan sosial juga karena kita sangat budaya ketimuran dimana kita sangat-sangat peduli satu sama lain sampai-sampai bentuk kepedulian itu malah jadi pagar makan tanaman. Gak percaya? lhah ucapan mulut tetangga itu lebih pedas dari cabai, itu buktinya. Kita secara kelembagaan, dan secara sosiokultural berada dalam ruang yang memiliki iklim sangat kompetitif secara multidimensi. Maka, ya gak apa -apa untuk mendekonstruksi pikiran seperti itu yang perlu diperhatikan: yang penting dicoba - sing penting dijajal! Tidak perlu mikir hasil dulu, hasil tidak akan menghianati usaha, berhasil atau tidaknya itu relatif. Hasil itu bukan satu-satunya hal yang akan membuat kita lebih baik, proses itu seringkali malah lebih berperan.
Kedepan aku akan mencoba banyak hal baru yang sebelumnya aku gak pernah coba lakukan, semata-mata biar meluaskan pandanganku, biar gak melulu cupet - sempit. Pandangan sempit dalam hal apapun itu rawan, meski dalam kasus tertentu juag diperlukan, tapi perlu juga untuk kita seimbangkan.
Ini kutulis di persinggahan, entah tertata atau tidaknya tulisan ini, ya gak masalah. Nanti kubaca lagi, kalau perlu aku perbaiki, kalau tidak diperbaiki pun juga tidak apa-apa, bisa jadi pengingat di masa depan. Pikiran yang diwujudkan itu ajaib bukan? Sing penting dijajal!
Kedepan aku akan mencoba banyak hal baru yang sebelumnya aku gak pernah coba lakukan, semata-mata biar meluaskan pandanganku, biar gak melulu cupet - sempit. Pandangan sempit dalam hal apapun itu rawan, meski dalam kasus tertentu juag diperlukan, tapi perlu juga untuk kita seimbangkan.
Ini kutulis di persinggahan, entah tertata atau tidaknya tulisan ini, ya gak masalah. Nanti kubaca lagi, kalau perlu aku perbaiki, kalau tidak diperbaiki pun juga tidak apa-apa, bisa jadi pengingat di masa depan. Pikiran yang diwujudkan itu ajaib bukan? Sing penting dijajal!
