Kamis 15.08.2024 kemarin adalah kali pertama minimarket berwarna merah itu hadir di distrik ini. Berduyun - duyun warga menjejaki bangunan baru minimarket itu. Tidak hanya warga dari kampung ini, beberapa kampung lain yang berjarak empat kilo meter sampai belasan kilometer hadir dalam acara pembukaan itu. Entah mereka hadir karena kehendak masing-masing, akan rasa penasaran terhadap "barang baru", atau mungkin juga karena mereka bersamaan mengantar anak-anak mereka mengikuti karnaval hari kemerdekaan lalu singgah sejenak karena alasan pertama "penasaran", "ingin tahu"
 |
| Salah seorang karyawan minimarket mengenakan pakaian adat dalam acara pembukaan perdananya. Doc IR |
|
Oh ya, sebelum cerita lebih panjang. Sebenarnya aku bisa memasuki minimarket ini selepas mengantar anak mengikuti acara karnaval yang sekalogus sebagai project pelajar pancasila - sebuah program dari kurikulum sekolah siswa masa sekarang. Aku mengiringi anak berjalan sekitar satu kilometer dari sekolah ke lapangan kampung. Selama karnaval itu, bahasan soal minimarket sering didengungkan para orang tua, wali siswa, guru, kepala sekolah, pedagang sempol, cilok, you get the point - oleh semua orang!
Anak-anak mengenakan kostum pakaian adat yang dimandatkan oleh para guru dan kepala sekolahnya. Melihat keramaian itu, para karyawan yang memang sedari awal sudah berkostum baik pakaian adat atau kostum totemnya - lebah kuning menyambut rombongan karnaval dengan gembira. Seseorang memakai kostum karyawan minimarket itu agak berbeda, dari pesolekannya nampak lebih rapi: rambutnya mengkilap - sisirannya membuat helai-helainya membentuk lekuk yang presisi, bajunya dimasukkan ke celana jeans warna hitam dan diikat dengan ikat pinggang berlogo buaya. Jelas dia beda dengan karyawan lainnya, segera dia memanggil karyawan berkostum lebah dan berbaju adat itu (baik yang laki juga yang perempuan) untuk merapat ke jalan, mendekati rombongan karnaval siswa se-distrik ini. Lantas berpose mereka dengan latar iringan anak-anak bersama para emaknya. Mereka melambaikan tangan ke rombongan karnaval, dan anak-anak itu melihat lebah besar berwarna mencolok mata, sontak memberi respon dengan teriakan senang: ada lebah besar! ada lebah! iya besarnya!. Senang, anak-anak itu juga melambaikan tangan kepada para karyawan itu.

| | Anak-anak memakai pakaian adat yang umumnya sesuai etnisitas mereka, didampingi para emaknya dalam iringan karnaval. Doc IR |
Dirasa waktunya tepat, si karyawan yang menyuruh karyawan lainnya itu lantas memegangi handphonenya yang berlogo buah dengan tiga bulatan besar dibelakangnya itu. Dibolak-baliknya kamera itu macam gorengan, posisi landscape-portrait-depan untuk selfie dan belakang. Setelah beberapa saat dia lantas melambaikan tangan ke iringan karnaval. diucapkannya berkali-kali "terima kasih adek-adek!". Senyum merekah dari mereka disambut tawa dari anak-anak. Mereka mungkin sama-sama gembira, para karyawan gembira karena mungkin itu akan menjadi momen yang tepat untuk dilaporkan ke pimpinan mereka. Sementara para anak dan emak rombongan karnaval ini, mereka gembira karena mungkin merasa disambut, terutama anak-anak karena melihat lebah besar kuning itu.
 | | Karyawan minimarket memakai kostum lebah dan pakaian adat. Keluar dari minimarket tak sedikit anak yang mengajak emak mereka untuk berfoto dengan si lebah itu. Doc IR |
Karnaval usai, berbondong orangtua dan anak-anak menuju minimarket. Lokasi parkirannya sangat luas. Cukup untuk menampung puluhan sepeda motor dan beberapa mobil besar sekalipun. Lokasinya berada di samping bank (masih jadi pertanyaanku, kenapa selalu begitu mereka menempatkan lokasi minimarket disamping bank atau atm, karena dekat sumber uang? memudahkan pelanggan segera ambil uang dan untuk dibelanjakan? entahlah).
Aku sekeluarga pun turut masuk ke minimarket itu untuk mengamati lebih dalam. Bagiku momen seperti ini sangat menarik.
Para pengunjung yang akan masuk disambut oleh karyawan perempuan berbaju adat Papua. Mungkin dia ditugasi atasannya untuk menyambut pengunjung ditambah membuka dan menutupkan pintu.
Sungguh pengalaman baru yang tiada dirasa di toko dan warung di sini. Jangankan dibukakakn pintu, belanja di warung atau toko di kampung ini seringkali malah mendapat tanggapan datar dari para penjualnya. Aku masih ingat ketika hendak membayar belanjaanku di salah satu toko paling lengkap di kampung ini, seringkali antrianku dipotong. Aku tidak mau memotong antrian orang lain meski anakku sudah mengeluh "Ayah kenapa lama sekali!". Mendengar komplain anakku, para pengunjung lain dan penjualnya mengatakan "Maju saja Mas, kalau gak gitu yang jadi paling belakang" ujar penjual. "Iya itu Mas kasihan anaknya, daritadi dipotong terus"
 | | Para pengunjung antre secara tidak rapi, tapi tidak ada yang saling mendahului. Tidak ada omongan dari penjaga kasir untuk menjaga antrean, juga tak ada tanda untuk tertib. Entah apa yang menyebabkan itu bisa terjadi, apakah karena penjaga kasir memakai seragam sehingga nampak lebih formal, atau karena mesin-mesin yang entah apa namanya yang baru didengar oleh para pengunjung, atau entah karena pertanyaan dari penjaga kasir atau rayuan mereka untuk membeli lebih banyak barang? entahlah. Doc IR |
Di minimarket ini, pengunjung dibukakan pintu, bahkan tidak perlu menutup pintu, sudah ada karyawan sendiri yang menunaikan kegiatan itu. Panasnya cuaca di luar minimarket yang memang kebangetan - bahkan kalau duduk saja tidak gerak, keringat keluar dengan sendirinya - seketika sirna. Sebab begitu pintu dibukakan, ada kipas yang tidak biasa terlihat di kampung ini: bentuknya balok memanjang, arahnya turun kebawah, langung kena kepala dan pundak orang yang melewatinya. Kulihat para pengunjung itu bergitu masuk langsung melihat ke atas seperti mencari tahu darimana asal-muasal angin sejuk artifisial.
|
"Baah dingin!" ujar seorang anak sambil menunjuk-nunjuk beberapa AC yang menempel di tiap pojokan.
Anak-anak adalah yang paling bersemangat. Begitu masuk, mereka berlarian menelusuri tiap lorong dari kiri ke kanan dari yang isinya rak minuman dan lemari es krim dan berujung minuman sachetan, lalu ke lorong snack, utilities dan seterusnya. Mereka seperti menemukan dunia yang baru, meski di toko lain di kampung ini juga menyusun rak dan juga ada lorong-lorongnya, namun di sini jauh lebih rapi. Semua barang diletakkan dalam rak berdasarkan jenisnya secara konsisten dengan alur lorong yang mungkin sudah dipikirkan oleh para ahli marketing dan psikologi konsumen, maklum minimarket ini kan memang perusahaan besar, muskil rasanya hal-hal itu tidak diperhatikan dengan detail.
Berbanding terbalik dengan berbagai warung dan toko di kampung ini, barang diletakkan pada awalnya sesuai kategori dengan dasar agar mudah dicari - bukan untuk menarik atau mengarahkan pengunjung agar banyak membeli. Contohnya: di salah satu toko yang baru dibuka di kampung ini, lorong dan rak itu terkesan random saja dimana rak bumbu dan mie instan berdampingan dan berhadapan dengan rak racun nyamuk. Kategori rak dan lorong yang random itu seringkali membuat pengunjung bertanya ke yang punya barang: "Mas Joko, shampo di sebelah mana?"... "Kae sebelah tepung!" teriak si penjual dari depan.
Apalagi kalau belanja di toko kampung ini sambil mengajak anak, sangat merepotkan. Lorong sempit karena rak-rak dimampatkan, tujuannya untuk menampung barang lebih banyak. Sekilas aku berpikir ketika awal masuk ke toko-toko ini lebih nampak seperti gudang ketimbang menjajakan barang dagangan. Hal-hal seperti itu seringkali membuat anak kecil menjatuhkan satu dua barang. Cemas dan was-was, orangtua sering melarang anak berjalan sendiri di toko-toko ini, karena bisa saja anak tertarik ke jejeran rak snack yang bersandingan langsung dengan barang pecah belah. Sementara di minimarket ini, anak-anak lebih leluasa. Lorongnya dibuat seragam jaraknya, dan jauh lebih lebar.
Di dalam minimarket, anak-anak seringkali membuat emak-emak mereka kewalahan. Berapa kali sudah kudengar mereka memanggil nama anaknya sambil clingak-clinguk mencari lewat mata. Ya, memang kebanyakan yang masuk ke minimarket ini adalah para emak dan bocils. Entah kemana para bapaknya sedari tadi saat karnaval, hanya beberapa saja yang nampak.
Aku masih memegangi kameraku, sambil melihat sekeliling ketika kudengar teriakan anak-anak yang mengarah ke satu tempat. Tak lama kemudian terdengar suara lantang berulang:
"Es krim... Disini Es krimnya" lantang teriak karyawan menjajakan "lapak" / pos jaganya.
Sekonyong banyak anak yang mendengar langsung mendekati pos itu. Di lemari es krim itu, anak-anak bernegosiasi secara langsung dengan orangtua mereka untuk membelikan es krim tentunya. Si karyawan dengan lihai menawarkan iming-iming harga spesial, khusus pembukaan ini lebih murah beberapa ribu rupiah, begitu yang kudengar. Tak ada pilihan lain bagi para emak dan bapak, selain membuka pintu geser lemari es itu dan mengambil apa yang telunjuk anaknya arahkan.
 |
| Negosiasi es krim. Doc IR |
Minimarket ini sekali lagi, adalah yang pertama di Distrik ini, dan mungkin baru yang kedua di Kabupaten ini. Mendokumentasikan infrastructure as a space of encounter ini sangatlah menarik bagiku. Kujumpai berbagai hal absurd yang tentunya tak bisa aku ceritakan lebih dalam disini, begitu kaya saturasi respon dari berbagai ragam pengunjungnya. Tak hanya itu, kesan kontras dan juxtapose yang kudapati sangatlah kental. Minimarket ini hadir selepas setahun pembangunan jalan sepanjangan beberapa kilometer menghubungkan kampung ini dengan satu kampung lainnya. Mungkinkah itu salah satu justifikasi dari developer dan investornya? Entahlah. Rasa-rasanya yang kuceritakan ini lebih banyak menimbulkan pertanyaan lanjutan timbang kejelasan.
Yasudahlah. Sekian dan sehat selalu.
Oh ya semua foto ini diambil menggunakan Nikon D40 dan AFS 35mm, editing dengan VSCO (sudah mirip film belum?)
 |
| Foto ini bagiku sangat menarik, aku tak mau memberikan caption yang menarasikan. Doc IR |