Senja Kapuas, terlalu romantis untuk dilupakan

Senin, 11 Juli 2011, sekitar pukul 18.00





Akhirnya aku memilih untuk aktif dalam duniaku sendiri, juga duniamu jika kau mengerti. Di sini, tak ada yang berkehendak, di sini - labuan dari segala ingatan, detail kecil yang membuatku semakin tajam mengingatmu. Aku mulai dengan senja di kapuas. Semburat merah di langit magrib memagut coklatnya air kapuas.

"San, ayo pulang, gelap nanti" ujar seorang pemuda yang menghantar kami bertiga menengok kampung di hilir.

"Ayo bang !" jawabku

Dua motor melaju menyusuri jalan tanah berlubang. Beruntung kami pada saat itu musim kemarau, tanah tidak becek dan licin, meski debu sebagai gantinya tak apa.

Di sela pohon dan rimbun dapur bambu, kulihat semburat merah kapuas. Aku menghentikan motorku, sengaja aku mengabadikan momen itu, meski itu terlalu indah untuk aku abadikan namun tak ada waktu untuk menikmatinya lebih lama.

Sesampainya di rumah yang aku tinggali di bagian hulu, aku lihat senja itu. Berulang kali kulihat, yang ada dalam pikiranku saat itu adalah secepatnya pergi ke urmah mu dan menunjukkannya padamu. Tapi tak bisa, tentu saja hari sudah gelap dan data masih menunggu untuk dituliskan.

Apa yang aku pikirkan dengan senja dan kamu pada saat itu ? Tak lebih dari sekedar duduk dan minum yeos dingin, dengan bulir - bulir jeli nya yang kenyal. Aku pikir itu sudah sempurna, karena yang terpenting adalah kita terlibat dalam momen senja itu.

Aku mencatatnya pada 12 juli, sehari setelahnya.

Di sini aku tuliskan ulang, lebih dari empat tahun setelahnya. Dan senja itu masih menggantung, masih ada dalam benakku. Pun dengan yeos  dan duduk di pinggiran sungai yang hanya menjadi utopia belaka.

semoga catatan itu belum hilang atau dimakan rayap, tapi aku sempat menuliskannya di sana: "suatu saat ... kita akan duduk bersama melihat senja ini lagi"


Empat tahun lebih sampai saat ini, catatan hanya menjadi catatan. Tapi tidak dilupakan. Aku percaya, pada apa yang aku pikirkan saat itu - sampai sekarang.

Antropologi mengajariku setidaknya dua hal yang sangat esktrem, di satu sisi harus ada catatan yang empirik, di sisi lain - di dunia ini antroologi tampil sebagai melankolia yang utopis, tentang mimpi-mimpi yang membebaskan diri. Di sana lah, senja yang berpagut dengan kapuas berada. Sednagkan kau ? kau berada dalam duniaku yang empirik juga dalam ruang kebebasan mimpi kita. Bukan mimpiku saja, kenapa ? karena satu dan yang lainnya terhubung lewat memori, lewat ingatan. Itu sepele, namun itu yang menjadikan hidup menjadi hidup, manusia menjadi manusia. Bahwa manusia punya harapan, mimpi, dan itu yang menjadikan manusia hidup.

Empat tahun, setelahnya, refleksi yang tidak keruan ini muncul. Namun, substansiku, kuharap dan memang adanya, lebih penting yakni : duduk berdua di senja kapuas. itu saja !