pasar malam




pasarku, pasar malam
penyambung semua orang 
dari penjual obat sampai mainan menakutkan
dari penasaran sampai lamunan 
dari keriangan sampai kesedihan 
berulang , berputar 
seperti bianglala 
tapi kemudian berhenti 
pada titik kejenuhan 
bubarlah, ini sudah pukul satu malam 
tak ada yang mau berkunjung pada pasarku yang sudah larut
kecuali para setan yang kurang kegiatan 
atau orang yang dilanda kesusahan. 























sugeng tindak mbah

Senin 3 november 2014. Pukul 17.51 saya di telpon oleh ibu saya, suaranya terisak dengan sedih mengabarkan bahwa simbah putri sudah wafat. Saat itu saya masih duduk di kampus membaca artikel yang barusan saya download. Perasaan saya campur aduk, jujur saja saya masih penasaran dengan kelanjutan bahasan artikel itu, namun saya harus menghentikan kegiatan membaca. Seketika saya pandang langit sore itu, agak gelap mendung meski tak jadi hujan pula. Beberapa menit kemudian, ayah saya juga menelpon, mengabarkan hal yang sama.
Saya tak punya uang waktu itu, saya terpaksa meminjam ayah saya beberapa uang. Kemudian dia transfer dan saya bergegas pulang, menuju rumah duka simbah di Boyolali. Setelah satu stengah jam perjalanan dari Yogya, pukul 21.39 saya sampai di rumah duka.
Suasana di rumah duka tidak seperti yang saya bayangkan ketika selama perjalanan naik motor Yogya - Boyolali. Saya membayangkan banyak orang di sana menangis terisak. Namun di sana justru banyak tamu laki-laki di halaman rumah dan di dalam rumah, sementara bagian belakang dan dapur dipenuhi wanita, dan anak-anak. Jenazah simbah berada di ujung barat rumah di ruang tamu, di sebelahnya ada kamar tempat di mana simbah kakung berdiam selama satu malam tanpa makan, tanpa tidur, hanya merokok dan minum teh hangat. Para tamu laki-laki dan beberapa wanita teman simbah putri yang sudah lansia juga berada di ruang tamu bersebelahan dengan jenazah simbah putri. Ada suasana yang sangat ekstrem di sana, saya bisa merasakan hal itu. Jenazah simbah putri terbaring di atas meja sendirian hanya ditemani lilin dan dia dipisahkan dengan geber  atau kain. Dia terbaring sendiri terpisah dari para tamu, atau simbah kakung, suaminya meski mereka semua berdekatan dalam satu ruangan atau bersebelahan.

Para tamu di depan rumah dan di dalam rumah berangsur pulang sekitar pukul 00.00. Hanya belasan orang di dalam ruang tamu, sementara di depan rumah sudah tak ada. Spontan mereka membentuk kelompok - kelompok terdiri dari 4-5 orang bermain kartu bridge. Permainan itu hadir untuk membuat mereka terjaga selama mereka menjaga jenazah sampai pagi hari. Entah mereka sadar atau tidak, namun dari pemahaman saya, ada dunia-dunia yang terpisah dalam satu ruang itu. Dunia tempat jenazah simbah saya terbaring, dunia tempat para tamu bermain bridge, dan itu dipisahkan oleh kain geber . Saya ingin mengasah otak saya untuk memahami hal itu, namun saya terlalu lelah untuk mencari apa yang diajarkan di kampus : deep structure  nya, atau thick description  nya.
Satu hal yang bisa saya pahami, bahwa eksistensi di sini tergantung pada ruang - ruang yang sudah terkonstruksi, oleh apa yang disebut sebagai dua hal di atas, Bahwa apakah konsep-konsep itu dapat mewakili semua hal dalam ruang-ruang dan eksistensi setiap materinya, realitasnya itu adalah urusan lain. Kesedihan misalnya, tidak hadir dalam bentuk mimik muka, suara isakan tangis, namun bagi para tamu, saya sendiri, dan simbah kakung, hadir sebagai bentuk cerita kenangan.
Saat itu pukul 02.45 ketika tamu-tamu yang bermain bridge sudah pulang dan hanya tersisa teman simbah putri yang sudah lansia, anak-anak mbah putri, saya sebagai cucunya, menantu dan mbah kakung mulai bercerita mengenang mbah putri ketika masih sugeng. Tidak peduli apakah cerita itu tentang keburukan atau kebaikan mbah putri, lebih luas tidak peduli apapun yang diceritakan, semua itu dimaknai para pendengar dan pencerita sebagai suatu hal yang membuat sedih.
Hal yang sangat berharga dalam hal ini, ketika orang sudah mulai tertata pada konteksnya masing-masing, pada dunianya masing-masing, dan semua itu terpisah satu sama lain. jalur penghubungnya hanyalah secara simbolik saja : lilin itu harus dijaga tetap hidup sampai pagi hari; kopi, beras, rokok, harus ada menemani si jenazah dan si tamu sampai pagi hari;  tidur hanya untuk beberapa orang saja tapi tetap harus ada yang terjaga ; kain geber harus tetap digelar sampai ketika jenazah di sucikan - dimandikan.
Sesudah dikebumikan, sanak kerabat, anak, cucu buyut, yang berada di rumah duka menjalankan aktivitas lainnya, seolah-olah tidak ada kejadian apapun. Semua orang kecuali mbah kakung saya kira sudah fokus pada prosesi ritus formal dalam budaya Jawa : Slametan. Bahwa slametan ini bersifat ambivalen : antara bersyukur dan berduka, toh itu tetap dilangsungkan demi kebaikan bersama, lagi-lagi ambivalen, kebaikan untuk si hidup dan si mati.
Saya lelah untuk menerangkan secara runtut, namun saya masih ingat dengan jelas. Bau kapur barus, bau kain kafan, bau rokok yang mengepul di ruang tamu, itu semua terekam dengan rapi. Ingatan ini mungkin menjadi bagian dari mengenang sebagai rasa empati untuk wafatnya seorang simbah. Sekarang simbah masih dikebumikan dengan penanda papan kayu sementara, nanti mungkin ketika simbah sudah permanen hidup di alam seberang ketika kijing dari batu dan semen dibuat di atas tubuhnya dimakamkan, ingatan - ingatan ini mungkin akan sirna sebagai wujud ikhlasnya dia hidup di alam yang lain. sugeng tindak mbah !





















Bahan pengawet, perasa dan penarik penampilan makanan ringan.

Pernah mendengar kasus-kasus makan tidak sehat di Indonesia ?. Saya beri contoh saja, beberapa tahun lalu fenomena bakso boraks atau formalin mencuat ke publik, oplosan minyak jelantah dengan oli, bakso dengan daging tikus, pewarna makanan yang berasal dari pewarna tekstil, dan  pemanis gula rafinasi yang dikonsumsi secara langsung. Pada intinya, berbagai fenomena itu muncul untuk mengikuti nalar ekonomis, mengingat hal itu ada dalam suatu sirkulasi perdagangan. Bagaimana tidak, poin utama dilibatkannya bahan-bahan tak layak konsumsi itu sebenarnya adalah nalar eksistensial bagi komoditas perdagangan terutama untuk konsumsi sehari-hari : pengawet, perasa, penampilan.

Keresahan ini sebenarnya muncul dari saya sendiri, saya memiliki adik yang masih kecil dia masih di tingkat sekolah dasar. Sehari-hari adik saya diberi uang saku sebelum berangkat ke sekolah, sebagian besar (kalu tidak semua) uang sakunya dibelanjakan untuk makanan ringan entah itu snack ringan yang diproduksi oleh industri makanan, penjaja makanan kaki lima, atau asongan. Masa kecil saya pun sebenarnya sama saja dengan adik saya itu. Di mata saya pada saat kecil makanan yang menarik adalah makanan yang berwarna-warni, rasanya membuat lidah ingin merasa berkali-kali, dan tentu saja harganya murah. Mungkin itu juga yang dirasakan adik saya sehingga dia sulit untuk tidak jajan. 
Dengan mendengar bunyi "tulit-tulit" dari penjual makanan itu (cilok, bakso tusuk, es krim, sosis goreng) adik saya langsung lari keluar rumah dan memanggil si penjual, kalaupun dia tidak punya uang dia akan meminta pada saya, dan jika tidak diberi seringkali dia menangis. Ya, yang saya khawatirkan bukan uang karena harga makanan cukup murah antara 500-1000 rupiah, namun lebih pada kesehatan. Lama-kelamaan saya perhatikan masa kecil saya atau adik saya adalah kecanduan pada makanan seperti itu. 

Saya mencoba merasionalkan pengalaman ini. Pertanyaan yang mengganggu benak saya adalah : kenapa di lingkungan saya sendiri khususnya, atau pada lingkungan lainnya umumnya di Indonesia, muncul fenomena semacam ini, apa yang sebenarnya dipikirkan oleh penjual dengan mencampur berbagai bahan berbahaya pada komoditas pangan.

Para pedagang makanan ringan terjebak dalam sistem pasar yang saling mengikat pada setiap mekanismenya. Untuk memeroleh keuntung tinggi ada beberapa cara seperti menaikkan kualitas yang diikuti dengan naiknya harga komoditas atau memperbanyak jumlah komoditas. Secara sederhana, pemikiran itulah yang paling mudah untuk dilakukan dalam memeroleh keuntungan. Namun ada juga cara lain yang beresiko yakni mengurangi kualitas komoditas namun tetap dengan harga yang sama : apalagi kalau bukan mencampurnya dengan bahan-bahan pengganti atau campuran. Sayangnya kadang bahan-bahan itu berbahaya. 
Komoditas yang awet juga hal penting untuk menjaga keuntungan. Cilok atau bakso misalnya, daya tahannya pendek, satu hari saja kalau tidak diwaetkan bisa busuk. Bahan-bahan pengawet berperan penting dalam hal ini, selain jumlah produksi bisa ditingkatkan, kerugian atas tidak lakunya dagangan pada waktu yang lalu bisa diatasi. 
Terakhir adalah penampilan, ini menyangkut siapa konsumennya. Makanan ringan seringkali memiliki pasar yang jelas seperti anak sekolahan. Penamiplan yang menarik setidaknya bagai anak-anak tentu saja akan mempercepat lakunya dagangan. Warna jajanan yang mencolok mengundang perhatian anak-anak untuk membelinya, mungkin hal ini karena anak-anak memiliki  rasa ingin tahu yang besar. 


Anak-anak sekolah jajan cilok (foto : ichsan rahmanto).

Lantas, ini semua apakah kesalahan dari si penjual ? atau konsumen yang kurang hati-hati ?. Lebih jauh, saya berpikir bukan keduanya, namun sistem. Sistem yang memungkinkan kondisi seperti ini muncul. Jika menilik pada para penjual kebanyakan adalah mereka yang tidak punya akses untuk pekerjaan lain, atau karena cara ini - mekanisme jualan yang seperti ini yang memungkinkan mereka memeroleh keuntungan yang cukup besar dengan modal yang relatif minim. 

------------------

Tahun 2013 tepatnya bulan April, saya berkesempatan menjadi asisten riset seorang mahasiswa post-doktoral di Kalimantan tengah. Waktu itu siang hari, saya sedang beristirahat kemudian saya mendengar suara "tulit-tulit" , saya kemudian iseng-iseng keluar rumah dan memanggil penjual itu. Saya membeli cilok yang dalam keseharian di sana disebut pentol . Ketika penjual itu datang saya tanya : "berapa bang harganya ?" dia menjawab " satu seribu, mas". Menggunakan kata "mas" saya pikir penjual ini dari Jawa, kemudian saya tanya dia " aslinya mana bang ", dia menjawab "aku soko Ngawi mas".  Saya senang, juga heran. Senang karena ketemu juga orang Jawa di tanah seberang (yah, mungkin ini sesuai yang disebut Durkheim kalau tidak salah sebagai kesadaran mekanis?), heran karena saya jadi bertanya-tanya : ngapain jauh-jauh kesini jualan pentol ? saya berpikir mungkin bekerja seperti ini punya untung besar. Memang saya tidak bertanya lebih jauh pada penjual itu karena dia juga harus buru-buru melayani pembeli yang sudah memanggilnya dari arah hulu kampung. Hal penting yang bisa aku pelajari adalah bekerja sebagai penjual makanan ringan memang memiliki pasar yang cukup menguntungkan, target konsumen yang jelas, dan tidak memerlukan keahlian khusus. Selanjutnya adalah mungkin kita harus lebih berhati-hati untuk jajan makanan ringan, karena ini menyangkut kesehatan. 

Bayang-bayang

kehadirannya kadang tidak dihiraukan, namun ia jelas salah satu yang menandakan sesuatu itu ada : bayang - bayang. Kumpulan foto ini terinspirasi dari cerpen karya A.A. Navis : bayang - bayang. Mungkin berbeda dari Navis yang menggambarkan si tokoh dalam cerpennya itu sarat dengan dunia politis, aku mencoba menangkapnya dari sekumpulan benda entah hidup atau mati, ternyata mereka sama-sama memiliki bayang-bayang yang bisu tak bisa bercerita dengan sendirinya, namun sama halnya dengan cahaya : ia sarat konstruk. Apa namanya kalau bukan manusia yang mampu membuat sesuatu yang diam, bahkan hanya berwarna hitam itu tidak bermakna. Apakah dari cahaya kita bisa mengenali satu sama lain, mengenali benda-benda, atau karena bayang-bayang yang hanya hitam itu kita bisa mengenali lewat perbandingan, lewat latar yang menaunginya  ? entahlah.

















Dari jendela mobil

Naik mobil, kadang terasa membosankan. Waktu itu ketika dan akan mengunjungi kerabat di Sragen, masih dalam suasana lebaran, selama perjalanan aku duduk di bagian belakang mobil berjenis "mobil keluarga". Di dalam mobil itu penuh, semua orang mengantuk karena kekenyangan sehabis makan besar di Sragen. Aku tidka mengantuk, mau mengajak berbicara semua orang tidur, bosan sekali rasanya. Kemudian aku ambil kamera dari tas dan aku buka kaca jendela mobil. Mobil melaju cukup kencang beradu dengan jalan bergelombang dan berlubang, aku kesulitan untuk memotret. Kemudian aku atur ruang fokus lensa agar menjadi tetap setelah itu eksposure aku kunci.
Selama perjalanan, banyak hal menarik yang aku temukan. Saat itu sore hari dan cahaya matahari kuning keemasan berpadu dengan langit biru. Kombinasi yang menarik.