Saya memperingatkan sebelum anda membaca tulisan ini, bahwa banyak adegan yang akan saya bahas dan jika anda belum sempat menonton film ini dan merasa banyak sekali spoiler di tulisan ini maka ambil konsekuensinya sendiri. Salam.
_______
"Mengulas kembali" film Joker besutan Todd Phillips ini bukan hal yang mudah atau menyenangkan, alasan kenapa-nya akan saya tulis di bagian akhir. Namun itu tidak berarti bahwa film ini jelek, sebaliknya menurut saya Joker dibuat dengan teknik sinematografi yang sangat bagus. Framing komposisinya benar-benar sangat jeli, secara simbolik berkelindan dengan narasi, peran-penokohan, serta setting atau konteksnya. Selain itu, film ini juga memberikan pengalaman yang secara langsung nampak bagi para penontonnya, seperti apakah itu ? Silahkan lanjut membaca.
Sebelum membahas lebih jauh, saya akan bercerita kenapa bisa menonton film ini. Dari awal memang saya sudah melihat berbagai meme dari Joker di timeline media sosial seperti facebook, twitter dan instagram. Jujur, saya tidak tertarik untuk melihat film ini karena pengaruh dari meme itu, karena sebagaimana yang sudah-sudah, di negeri ini memang setiap ada film baru selalu berkeliaran meme di dunia maya, semua akun berlomba-lomba merepresentasikan pengalaman dalam meme. Kalau boleh berkata, meme itu tak lebih dari spoiler yang bermakna namun parsial.
Kamis malam selesai dari bekerja, saya pulang ke kos lantas beristirahat sejenak. Istri saya mengajak untuk menonton film ini karena ditawari oleh tetangga yang seorang Ibu satu anak yang umurnya masih 3,5 tahun di kompleks kos, mereka sekeluarga ingin menonton film sebelum suaminya akan bekerja kembali di Yahukimo. Saya mengiyakan saja meski besok harus bekerja pagi hari pukul 08.00WIT, pikir saya tidak apa. Namun film baru akan dimulai pada pukul 21.00WIT yang artinya kami jelas akan pulang larut malam terlebih jarak bioskop yang di Jayapura itu sekitaran 40menit dari kos kami. Satu jam sebelum pemutaran film dimulai, kami sudah bersiap lantas menggunaan mobil tetangga tersebut kami semua berangkat ke Jayapura.
Sesampainya di bioskop di Jayapura kami lantas membuat print-out dari scan barcode aplikasi bioskop yang sudah diunduh sebelumnya. Dari PA terdengar suara bahwa film di studio 5 yakni pemutaran Joker berada akan segera dimulai, kami lantas menuju lokasi studio, setelah menunjukkan tiket kami semua masuk, belum satu langkah kami memasuki pintu studio, penjaga tiket berkata bahwa anak tidak boleh masuk. Tetangga saya itu kemudian beralasan bahwa anaknya biasa tidur ketika menonton jadi tidak masalah menurutnya, dan memang kata ayahnya si anak ini sejak umur 2 tahun sudah diajak menonton film di bioskop. Namun penjaga tiket tetap bersikeras tidak bisa karena rating dari film Joker ini harus 17 tahun ke atas, "akan berpengaruh ke psikologis anak Ibu" begitu tutur penjaga tiket. Lama bernegosiasi lantas keluarga ini menuju ke bagian CS dan menanyakan kondisi ini, lantas kemudian mereka ditawari untuk melihat film lain yang ratingnya bisa untuk semua umur. Tiket yang pada awalnya sudah kami beli sedemikian rupa agar bisa duduk dalam satu baris terpaksa hanya saya dan istri yang gunakan, dua kursi lainnya tidak terpakai. Kami lantas berpisah, mereka menuju studio 3 di mana Gemini Man sedang diputar, kami berlanjut ke studio 5.
Saya perhatikan dari barisan kursi banyak yang kosong sekitar 20an orang saja yang duduk, semuanya adalah anak muda tidak ada orang tua atau dewasa, kalau melihat dari penampilan dan wajahnya mungkin semua dibawah 30an tahun. Tak lama berselang film dimulai, lampu padam dan hening dalam ruang studio yang dinginnya keterlaluan ini.
Kelindan simbolik sarat makna : aspek teknis dan intrinsik narasi
Saya tidak akan membahas semua scene dalam film ini, tentu saja. Semua scene dalam film ini pastinya sudah melalui proses yang sangat jeli dan kesemuanya penting, namun ada beberap scene yang sangat menarik untuk dibahas. Berikut adalah beberapa scene tersebut.
Film ini dibuka dengan adegan aktor yang belakangan saya ketahui namanya Artur Fleck, sedang merias dirinya di depan cermin, dia adalah seorang badut - clown pada sebuah perusahaan atau agensi badut. Scene berlanjut pada detail pekerjaannya sebagai badut pengiklan promo sebuah toko yang akan bangkrut yang sedang cuci gudang semua barang dagangannya, dengan mengangkat papan kalau saya tidak salah ingat : "....everything must go !!!", Arthur menari-nari untuk menarik perhatian orang lalu-lalang, setting jalanan down town mungkin era 80-an di Gotham City, hal ini sangat jelas dengan sengaja DP - Director of Photography dalam sekian detik mengarahkan kameranya pada papan baliho iklan striptis yang tepat berada pada jejeran toko yang akan bangkrut tersebut. Arthur masih menari dan memutar papan yang diangkatnya sembari beberapa orang melintas melihat tingkahnya bukan sebagai hal yang lucu, tapi aneh, tatap mata dan kernyitan dahi orang lalu lalang itu cukup memberi penjelasan kesan aneh pada badut yang seharusnya lucu ini. Hal itu diperkuat dengan berbagai teriakan cemooh yang mengatai sepatu Arthur yang sama sekali tidak lucu. Lalu segerombolan anak muda datang dan menjahilinya dengan mengambil papan, sontak Arthur mengejar mereka sembari meminta tolong orang untuk menghentikan ulah anak muda itu, orang lain mendengar namun mereka tidak terlalu peduli, seolah itu hal yang biasa umum terjadi. Sampailah kejar-kejaran itu pada sebuah gang yang kumuh, gerombolan anak muda itu dengan terengah menunggu Arthur untuk mendekatinya, sampai suatu ketika muka Arthur ditampar keras menggunakan papannya sendiri oleh anak muda yang bersembunyi di sela-sela gang. Limbung, jatuhlah Arthur di jalanan gang kumuh, basah dan kotor itu. Seketika komposisi kamera dengan menggunakan lensa wide mengambil gambar Arthur yang tidak berdaya, pipinya sudah di rias dengan keseriusan dan effort itu jatuh di jalanan, sebuah pertanda dia berada pada posisi yang paling rendah. Tak berhenti di bagian itu, fokus DoF dengan rana lebar dari lensa wide yang dipakai DP memberikan efek dramatis namun fokus ditaruh pada si Arthur yang terbaring, background adalah arena diluar DoF menampilkan adegan gerombolan anak muda dengan beringas menendang tubuh Arthur yang hanya meringkuk menutup kepala satu tangan dan mengapit dua kaki di tangan lainnya. Lantas gerombolan anak muda itu pergi, menyisakan Arthur tergeletak begitu saja, sebuah title besar berwarna kuning menutup semua frame bertuliskan "JOKER".
Arthur tak berhenti tertawa, namun raut mukanya sedih. Dia tidak bisa mengontrol tawa itu. Scene kini berada di dalam suasana konsultasi psikis. Dihadapanya adalah lawan bicara yang mungkin seorang dokter, psikolog, atau therapist. Dia memiliki kondisi kesehatan mental yang kurang baik, tidak bisa mengontrol emosi dan meluapkannya dalam tawa tanpa henti.
Nampak pada scene lain, Arthur kembali pulang ke rumahnya yakni sebuah flat kaum miskin di Gotham. Di sana dia tidak tinggal sendiri, melainkan bersama Ibunya, Penny Fleck. Ibunya sudah sakit-sakitan dan perlu bantuan dari Arthur untuk sekedar berdiri dan mandi. Duduk di sofa kursi, Ibunya memanggil Arthur dengan sebutan "Happy", jika nama merupakan harapan maka itulah keinginan Ibunya tentang Arthur. Namun seringkali harapan dalam nama itu berkebalikan dengan realitas, sontak saya teringat pada novel Eka Kurniawan "Cantik itu Luka" - "Beauty is the Wound" tokoh utamanya bernama "Cantik" namun parasnya tidak sejalan dengan namanya. Kontradiksi semacam ini memang sering dipakai dalam beberapa karya baik sastra maupun film, menurut saya hal ini tak lain untuk menunjukkan adanya pertentangan antara kenyataan dan apa yang dibayangkan. Kembali pada scene antara Arthur dan Ibunya, Happy begitu dia memanggil anaknya, setelah menyuruhnya untuk melihat kotak surat apakah ada surat balasan dari Thomas Wayne (ayah Bruce Wayne - Batman) dan mengajaknya untuk melihat tayangan favorit di televisi "Murray Franklin Show" bersama. Melihat tayangan itu, Happy membayangkan dirinya diundang oleh Murray dalam acaranya sebagai komedian yang tenar dan dihormati oleh para khalayak. Dalam mimpinya itu, Arthur bercerita tentang dirinya dan bagaimana dia merawat Ibunya sendirian, tanpa ayah. Lantas Arthur diundang naik ke panggung oleh Murray yang kemudian menyatakan betapa bahagianya jika memiliki anak seperti Arthur. Mimpinya berakhir di sana, Arthur menginginkan seorang ayah yang citranya seperti Murray : presenter komedian yang tersohor dan baik, Murray dalam mimpi Arthur adalah seorang yang ingin memiliki anak yang baik merawat ibunya. Dari scene inilah hidup bahagia yang dibayangkan oleh Arthur dibentuk.
Lanjut, scene Arthur setelah dipukuli oleh gerombolan anak muda. Duduk dan melihat sepatu yang dianggap orang lain tidak lucu itu, dia menarik tali sepatu dan memukul sepatu berharap bisa seperti yang dibayangkan orang lain : lucu. DP mengambil frame dari belakang Arthur, memerlihatkan memar tubuhnya, framing berubah dari wide ke medium lalu close pada memar itu. Kemudian datanglah temannya dan mereka berdiskusi soal kejadian yang dialami Arthur, menurut temannya dia harus membela diri lantas memberikan satu kantong kertas berisi kaliber 38 dan beberapa peluru. Arthur sempat menolak namun temannya meyakinkannya bahwa tidak apa asal tidak ada yang mengetahui. Arthur pulang, dalam lift dia bertemu dengan seorang Ibu dan anaknya, wanita itu masih muda dan ketika pintu lift dibuka wanita itu memberikan gesture dengan jari dan tangan menembak kepalanya sendiri. Di ujung lorong sebelum wanita itu masuk ke flat-nya, Arthur memanggil dan memberikan balasan gesture yang sama, mereka sama-sama tersenyum.
Scene rumah sakit, Arthur sedang perform di depan dokter, perawat dan pasien anak, dia menghibur mereka dengan bernyanyi dan menari. Sampai suatu ketika pistol kaliber 38 yang selalu dibawanya jatuh. Kejadian itu membuatnya dipecat.
Pulang dari kantor agensinya dengan naik subway menuju flat, dalam gerbong yang sepi nampak tiga orang kantoran sedang menggoda satu wanita yang duduk sendirian. Melihat itu tawanya kembali muncul, menarik perhatian dari orang kantoran itu lantas membuat mereka marah. Wanita itu pergi, lalu ketiga orang itu menghajar Arthur, sampai suatu ketika Arthur sekonyong-konyong menembak kepala salah satunya, lalu menembak lagi satu, satu orang berlari. Arthur mengejar, dan orang itu berakhir naas dengan beberapa amunisi bersarang di tubuhnya. Arthur panik, lalu berlari pulang.
Seperti sebelumnya, Penny meminta Happy untuk melihat kotak surat. Lantas meminta Happy untuk kembali mengirimkan surat yang baru ditulisnya untuk Thomas Wayne. Di televisi tayangan Murray Franklin diinterupsi oleh berita penembakan tiga orang karyawan perusahaan Wayne. Nampak Wayne memberikan pernyataan bahwa meski tidak mengenal secara langsung, namun ketiganya merupakan orang baik dan cekatan.
Penny lantas beranjak ke kamar untuk tidur setelah sebelumnya menari bersama Happy. Arthur tergoda untuk melihat apa isi suratnya, perlahan dia membaca dan mengetahui hal yang mengejutkan, Ibunya menulis bahwa Arthur adalah anak dari Thomas Wayne. Seketika Arthur marah, lantas scene berlanjut pada dialog antara Penny dan Arthur. Penny masuk ke dalam ruangan dan mengunci pintu, sementara Arthur dari luar tidak bisa masuk dan sempat memukul pintu itu. Penny bersikeras tidak akan berbicara jika Happy marah. Arthur kemudian berkata tidak lagi marah, lantas keduanya mulai berdialog. Framing dialog lensa kamera wide berada diantara kedua aktor yang dibatasi oleh dinding. Pada bagian Penny pencahayaan lebih terang ketimbang bagian Arthur di mana background nya adalah gelap. Penny kemudian menceritakan apa yang ditulisnya dalam surat kepada Happy. Menurutnya, Happy memang anak kandung darinya dan Thomas Wayne, namun dirinya tidak bisa berbuat banyak karena Wayne adalah orang dengan pengaruh dan kekuasaan yang besar, dan sebelum itu mereka sudah bersepekat serta Penny menandatangani kesepakatan untuk tidak bercerita pada siapapun. Scene ini menunjukkan adanya batasan dalam pertukaran informasi dan nilai akan informasi itu sendiri, dinding yang tidak terlalu tebal itu tak lain sebuah kepercayaan yang menjadi pembatas antara keingintahuan Happy atas nilai kebenaran dengan benar tidaknya informasi dari Penny Fleck.
Arthur mencoba mencari jawaban, mendatangi rumah Wayne, sampai pada suatu ketika dia mendatangi Wayne dalam acara amal keluarga Wayne. Di dalam gedung megah itu, sedang diputar film Charlie Chaplin, Wayne duduk di kursi VIP. Ketika Wayne menuju toilet, Arthur menemuinya dan menceritakan isi surat itu. Selain pukulan di akhir dialognya dengan Wayne, informasi pahit diperolehnya bahwa dia di adopsi oleh Penny dan Penny adalah gila delusional menurut Wayne.
Arthur pergi ke RSJ untuk melihat info sebenarnya, lalu dia mendapati informasi pemberitaan media tentang ibunya dan dirinya, juga tentang pernyataan Wayne dalam surat kabar. Arthur kebingungan, lalu mendatangi ibunya yang sakit di rumah sakit. Lalu dia berkata pada ibunya : "Selama ini kupikir hidupku adalah sebuah tragedi, namun sekarang aku menyadari bahwa hidupku adalah lelucon". Arthur lalu membunuh ibunya dengan membekapkan bantal di wajah ibunya.
Penembakan ketiga karyawan Wayne itu telah menyebar dalam berbagai kabar di Gotham. Penduduk terbagi menjadi dua pandangan : yang setuju karena kejadian itu sebagai simbol perlawan pada orang kaya di Gotham kebanyakan oleh kelas bawah, yang tidak setuju karena itu adalah perbuatan keji kebanyakan adalah kelas menengah atas.
Tak butuh waktu lama Arthur dan wanita itu berkencan, mereka berjalan di kota, wanita itu menonton stand up comedy Arthur pada sebuah bar. Arthur tertawa di panggung dan sulit untuk berhenti. Keduanya berakhir pada percembuan di flat wanita itu. Footage komedi Arthur di bar itu beredar sampai ditayangkan oleh Murray dalam acaranya. Murray menjadikannya bahan konten dalam acaranya di mana komedi Arthur itu dipotong pada beberapa bagian footage saja , sialnya adalah bagian yang terburuk yang ditayangkan, namun bagi Murray dan penontonnya hal itu adalah hal yang lucu. Pagi hari Arthur ditelpon dan diundang Murray dalam acaranya. Arthur setuju lantas menentukan jadwal.
Arthur menari di sebuah turunan tangga, namun sial dia dikejar oleh dua detektif yang sudah mewawancarainya terkait pembunuhan di subway. Berkejaran ketiganya, Arthur tetap ingin tampil di acara Murray.
Sebelum tampil, manajemen dan Murray mendatangi Arthur. Manajemen merasa dandanan Arthur sebagai badut terlalu sensitif mengingat luasnya demonstrasi akibat perbedaan pandangan penduduk soal pembunuhan karyawan Wayne, para demonstran itu memakai kostum badut sebagai simbol perlawanan. Namun Murray tidak mempermasalahkan tampilan Arthur, sebelum Murray beranjak dari ruang rias Arthur, dia meminta Murray untuk memanggilnya "Joker".
Dialog tidak berjalan dengan harapan Murray ketika Arthur melontarkan lelucon gelap di acaranya yang mungkin ratingnya adalah acara keluarga itu. Dalam dialog itu, keduanya berdebat soal makna lucu pada sebuah komedi atau lelucon. Menurut Arthur lucu itu relatif, dia marah pada Murray atas penayangan footage komedinya di acara itu. Menurutnya Murray tak lebih daripada mengolok dirinya. Acara live itu selesai, ketika Arthur menembak kepala Murray setelah sebelumnya berkata : "Kamu akan merasakan balasannya" kurang lebih itu kalau tidak salah. Tindakannya itu membuatnya ditangkap, namun di luar sana banyak orang yang melihat televisi dan tidak sedikit yang tergerak melihat hal itu.
dalam mobil polisi Arthur duduk di kursi belakang terikat pada borgol. Sampai suatu ketika mobil itu ditabrak oleh demonstran berkostum badut. Pendemo itu melihat Arthur dan mengenalinya, lalu bersama pendemo lain dia mengangkat Arthur dan dibaringkannya pada atas kap mobil polisi.
Pendemo itu beranjak pada kebrutalan, penjarahan, kekacauan di mana-mana, sampai seorang pendemo melihat Wayne dan keluarganya keluar dari gedung lokasi amal itu. Dia menembak Wayne dan istrinya, menyisakan Bruce Wayne sendirian.
Sadar dari pingsan, Arthur berdiri diiringi sorakan pendemo badut yang sudah menunggunya. Perlahan Arthur berdiri dan menari di atas mobil polisi. Arthur resmi menjadi villain dari Gotham.
Film ini ditutup dengan scene Joker dalam sesi dialog dengan therapist, dia menanyakan apanya yang lucu dari tawaan Joker itu. Joker menjawab : " kau tidak akan paham". Scene ini menurut saya paling bagus, dari dialog keduanya sulit dibedakan apakah Arthur sedang delusi menceritakan imajinasinya atau sedang menceritakan apa yang benar-benar terjadi. Diiringi lagu yang entah apa judulnya, Joker berjalan dengan sambil menari, bekas tapak sepatunya berwarna merah, mungkin dia membunuh therapist itu. Fokus lensa ditaruh pada DoF sempit atau rana lebar seiring Joker berjalan pada pertigaan lorong itu dia menjadi kabur oleh bokeh, berbelok ke kanan lalu kembali ke kiri dengan seorang lain mengejarnya. Film fade out dan berakhir.
Tapi apakah badut memang seharusnya lucu ?
Melihat badut sebagai identitas Arthur mau tak mau memaksa ingatan saya kembali muncul pada sebuah foto karya Bruce Davidson dalam photo essay -nya berjudul "Circus". Seri fotonya itu dibuat pada tahun 1958 di New Jersey, Amerika Serikat. Bruce yang dimentori langsung oleh pendiri agensi foto Magnum yakni Henri Cartier Bresson ini tertarik pada satu sosok bernama Jimmy yang merupakan badut dalam gala Sirkus di New Jersey tersebut. Mengutip dari penjelasannya, Bruce berkata "I found something in Jimmy that was more than loneliness, it was a story about surviving" . Jika Jimmy pada kehidupan karya Bruce Davidson yang non-fiksional adalah sosok yang mencoba bertahan pada segala tekanan dan peralihan teknologi dan kehidupannya, Todd Phillips menampilkan Arthur dalam Joker sebagai karya fiksi yang mana dia beralih-ubah.
![]() |
| Bruce Davidson. Palisades, New Jersey, USA. 1958. © Bruce Davidson | Magnum Photos |
![]() |
| Bruce Davidson. Palisades, New Jersey. USA. 1958. © Bruce Davidson | Magnum Photos |
Lantas, apa hubungannya seri foto Bruce Davidson ini dengan film Joker ?.
Benang merah yang menghubungkan keduanya saya kira terletak pada peran badut atau clown . Konstruksi sosiokultural dalam mimpi-mimpi Amerika dekade 1950-an tentangnya merupakan sebuah tokoh yang diimajikan lucu. Lucu dalam hal ini seperti kata Arthur ketika wawancaranya dengan Murray Franklin adalah relatif di mana tiap orang bisa menafsirkan masing-masing. Bagi gerombolan anak muda yang mencuri lalu memukuli Arthur, kelucuan terletak pada proses merendahkan badut, bahwa eksistensinya memang untuk sebagai olok-olokan, tak lebih. Selain itu, badut merupakan makhluk aneh, nampak dari rias dan kostum yang dipakainya : sepatu terlalu besar, hidung bulat merah, rambut berwarna mencolok, dan riasan wajah yang selalu tertawa. Rias dan kostum ini nyatanya bukan hanya sekedar dalam karya fiksi, seperti nampak pada fotograf tentang Jimmy oleh Bruce di atas.
Tak berlebihan kemudian jika ingatan saya tentang seri foto "Circus" dari Bruce kembali muncul dan setting film Joker pasca 1950-an di Gotham, merupakan masa yang sama di mana badut sirkus tidak lagi memeroleh tempat dalam dunia hiburan digantikan oleh kemajuan teknologi. Penampilan televisi dari berbagai scene dalam Joker menunjukkan bahwa penduduk Gotham tak perlu lagi datang ke tempat komedian, atau melihat badut jalanan, mereka hanya perlu memegang remote dan melihat Murray Franklin Show yang bergengsi terlebih diiringi dengan band Jazz-nya yang tenar itu. Foto-foto Bruce dalam serinya ini juga dilatarbelakangi kondisi yang sama di Amerika di mana paska dekade 50's merupakan masa peralihan antara dunia hiburan konvensional berhadapan pada kemajuan teknologi hiburan media televisi. Terlepas dari kemajuan dan peralihan teknologi, konstruksi identitas badut memiliki dua kutub ekstrem dalam kesehariannya. Jimmy di satu sisi merupakan badut yang dalam pekerjaannya harus menghibur penonton sirkus, di lain hal dia adalah manusia yang punya kehidupan sosial sama seperti orang lainnya. Citra kesedihan dan kesendirian kemudian nampak sebagai klimaks dalam keseharian Jimmy ketika dalam restoran dia makan sendiri dan pandangan mata orang lain yang melihatnya dengan aneh sekaligus mengejek seperti yang terlihat pada foto Bruce Davidson di atas. Hal ini sama dengan adegan pembukaan dan sepanjang pre-klimaks film Joker di mana posisi Arthur juga direndahkan, diejek oleh orang-orang disekitarnya. Bedanya, dalam foto Bruce Davidson adalah sebuah kenyataan namun Joker adalah fiksi, itu saja.
Laiknya sebuah karya seni lainnya, film atau komik bisa saja sebuah buah renungan, sebuah transformasi representasi fiksional dari realitas keseharian. Dan dalam hal ini jika film ini merupakan representasi realitas, maka Todd Phillips dan tim sangat cerdas dalam mengangkat isu sosial dalam wadah karya fiksi. Pun jika bukan merupakan representasi realitas, film ini tetap saja sangat bagus menurut saya karena kelindan simbolik dan perpaduan aspek teknis dan intrinsiknya sangat mengena.
Reality, Delusion, and Imagined World
Arthur sedari awalnya tidak ada penjelasan profil dirinya terkecuali dalam proses narasi dia adalah seorang pengidap penyakit kejiwaan, punya seorang ibu yang entah kandung atau angkat, bekerja sebagai badut, berusaha menjadi komedian, dan berakhir berubah menjadi villain. Liminalitas dan ambivalensi ditunjukkan dengan kontras dalam setiap scene film ini. Antara yang baik dan buruk, anak kandung-anak angkat, sehat kejiwaan - gila, miskin-kaya, berdaya-tidak berdaya, realitas-bayangan. Arthur selama sebelum scene dia membunuh Ibunya adalah berada di tengah kontras itu, dia liminal dalam runutan kejadian yang ambivalen.
Kehebatan Todd Phillips dalam film ini adalah merepresentasikan alih-ubah nilai secara eksplisit meski harus dengan cara menampilkan narasi scene yang banyak dianggap penonton film ini sebagai bentuk : sadis, jahat dan tidak mendidik. Arthur sebelum membunuh karyawan Wayne dan ibunya digambarkan sebagai tokoh baik dengan segala kekurangan kejiwaan dan hal lainnya. Dia tertindas oleh keadaan ekonomi, depresi atas ketermarjinalan status sosialnya, dan menderita atas sakit kejiwaannya. Di sisi lain, hal yang sama mengidap pada penduduk Gotham yang mana diferensiasi sosial terlalu nampak antara yang miskin dan kaya, mereka yang miskin nampak sebagai korban atas kekayaan para miliuner seperti Wayne. Antara badut jalanan dan tayangan mapan komedi Murray Franklin, antara kenyataan dan apa yang dibayangkan.
Ambivalensi terjadi pula pada ketidakjelasan informasi soal Ibu Arthur, pemberitaan media dan rekam medis kondisi kejiwaannya, status anak dari Arthur-Happy. Pada akhirnya ketidakjelasan itu yang membuat Arthur membuat pilihan untuk berubah dengan membunuh Ibunya, dari hidupnya yang tragedi menjadi komedi atau lelucon. Dari tidak berdaya sebagai badut jalanan menjadi seorang villain yang banyak dipuja demonstran.
Secara keseluruhan, film ini saya pikir dapat ditafsirkan menjadi tiga bagian penting antara dunia yang nyata - realitas, delusi, dan dunia yang dibayangkan seharusnya. Alih-Ubah dari realitas menjadi apa yang dibayangkan dijembatani oleh delusi dari dua tokoh : Arthur dan Ibunya. Semua orang menganggap keduanya sebagai bentuk kegilaan, hal yang ditolak oleh penduduk Gotham sebagian. Di sebagian lainnya, penduduk Gotham yang setuju adalah sama gilanya dengan Arthur dan Ibunya. Di sini lah saya kira karya Phillips ada relevansinya dengan realitas pada kehidupan saat ini, ditengah hoax dan krisis kepercayaan pada nilai kebenaran, masyarakat terpecah menjadi dua. Namun keduanya sama-sama terhanyut dalam iklim liminal yang ambivalen.
Melangkah sejenak lebih jauh, saya ingin menanyakan kepada anda semua yang membaca : apa bedanya antara kondisi krisis kepercayaan nilai kebenaran saat ini dengan apa yang direpresentasikan dalam karya Todd Phillips ? Bukankah hoax, pengaruh aktor-aktor besar dengan buzzer di media sosial adalah yang kita hadapi sekarang ? apakah Joker atau sebagian penduduk Gotham lainnya ?. Saya sendiri merasa kesulitan untuk menjawab hal itu, dan jika memang seperti itu keadaannya bukankah kehidupan kita sama chaos nya dengan kehidupan penduduk Gotham City ?.
Joker bukanlah alih-ubah dari yang baik menjadi jahat, namun sebagai simbol identitas kebingungan, ketidakjelasan, liminalnya seseorang dalam masa peralihan yang ambivalen di mana nilai kebenaran itu sendiri bisa dikritisi : antara nilai yang mapan dan kehendak untuk mempertanyakan hal itu. Joker dalam ini, adalah bentuk sikap memilih menjadi villain dalam berbagai opsi identitas yang melekatinya : clown, Happy, Arthur. Alih-ubahnya adalah pada pemaknaan nilai kebenaran.
Krisis representasi nilai adalah hal yang menjadi pertanyaan besar yang saya peroleh dari melihat film ini. Seperti makna lucu yang relatif dalam penjelasan Joker kepada Murray, benar menurut siapa?.
Koda
Lampu menyala, dan film berakhir menyisakan kredit film pada screen studio. Namun, tidak ada tepuk tangan, suara-suara orang, atau suara apapun, pula tidak ada penonton yang beranjak dari tempat duduknya dengan segera, tidak ada orang yang buru-buru keluar untuk ke toilet seperti pada umumnya ketika kita menahan rasa ingin buang air dalam studio bioskop yang dingin ini. Saya perhatikan, semuanya saling tatap dengan orang disebelahnya tak terkecuali saya kepada istri, saya pikir semua orang menjadi bingung, entah apa dalam benak mereka. Perilaku penonton ini bagi saya sendiri menunjukkan, betapa besar dampak film ini secara langsung kepada para penontonnya sehingga setelah melihatnya membuat penonton bereaksi aneh, tidak lazim seperti pada film lain, avenger misalnya. Dan inilah alasan kenapa menulis tentang film ini terasa tidak menyenangkan dan sulit bagi saya. Sama seperti penonton lain, saya sendiri merasa film ini langsung berdampak (membuat saya berpikir ,dan selalu memancing pemunculan ingatan selama tayang seperti pada foto Bruce Davidson) bahkan setelah melihatnya.
___.

