kolotkah si Kolot ?



Perlukah orang bodoh di dunia ?
Sangat perlu, dengan cara bodoh bisa kujawab bahwa orang bodoh dibutuhkan untuk membedakan antara mereka yang pandai dan bodoh. Kukira juga sebagai bahan renungan bagi para orang tua, meski sekedar sebagai himbauan bagi anaknya untuk tidak meniru kelakuan bodoh orang bodoh.

“Jangan seperti si Anu nak !”


Siapa lagi kalau bukan Kolot, orang bodoh berkelakuan bodoh itu menjadi pedoman yang apik bagi para orangtua di kampungnya. Namanya selalu disebut macam mantra ketika seorang anak dengan bodohnya memecahkan pot bunga, menginjak bibit jagung, atau mencuri buah mangga.
“kau ini mencuri mangga mau jadi apa ? mau kaya si Kolot itu ?” bentak seorang tua kepada anaknya.

Kolot tetaplah kolot seperti namanya, dengan kolotnya dia mendengar bentakan seorang tua itu. Lantas apa yang dia lakukan ?, kau tahu bukan ketika seorang kolot mendengar nama Kolot dipanggil dalam bentakan yang – apa mau dikata kolot pula ?.

Ya, dia hanya tertawa dengan kolotnya.

Sementara para penganutnya – si orang tua – yang mengucap mantra Kolot itu, marah terperangah. Matanya merah merasa bentak tak pula cukup untuk menangani anaknya yang kelewat kolot pula pada tawa Kolot yang memang bisa membuat burung emprit lari tanpa  digusah.  

................

Langkah tak teratur, kadang menengadah menantang langit, kadang merunduk memuja bumi, seringnya ke kanan pula ke kiri bukan karena mabuk, tapi karena menjaga keseimbangan otaknya yang kolot, begitulah cara dia berjalan. Sampai di muka musholla, ada kotak amal di atas pagar beton juga beberapa pasang sandal di subuh itu.
Ada cerita tersendiri yang begitu berkesan bagi si Kolot mengenai musholla itu. Baginya, musholla adalah rumahnya yang paling dia rindukan selepas subuh – bukan, tepatnya selepas orang –orang pergi bubar dari jamaah subuh. Dalam matanya yang juga kolot, musholla hanya kasur selebar 10mx8m, berwarna hijau, dan berbau apek karena injakan kaki jemaah yang membawa air dari tempat wudhu, atau wc musholla yang pesing tak keruan. Karpet masjid bagi si Kolot adaah satu satunya hal yang paling dirindukan setelah seharian berjalan (oh tentu saja seharian dia berjalan seperti yang kujelaskan barusan, bacalah paragraf di atas !).
Dan jangan lupa pada beberapa pasang sandal swallow  yang sudah tipis itu. Kolot sangat menyukainya, dari benda tipis berwarna coklat itu (harusnya putih) dia bisa makan.

Dibalik rimbun pohon kopi samping musholla, Kolot duduk tenang seperti batu. Satu dua jamaah masih melihat sekitar, waspada pada kedatangan Kolot, beberapa jemah lain malah membawa sandalnya yang masih bagus – atau sendal kulit sintetis itu masuk ke dalam musholla.
ben ora ilang kang “ ujar si pemilik sendal sintetis.

Kolot adalah batu, yang kini meringis karena melihat pelitnya para pemilik sendal. Batin si Kolot :
halah mung sendal wae ndadak njaluk pitulung kon njagakne Gusti Allah
(Apa kalian tidak curiga dengan si Kolot yang kolot itu bisa ngomong seperti itu ?. Kalau aku jadi kalian aku curiga)

Subkaanarobbika robbil ngijjati ngamma yaasifuun.... wal kamdulilahirobbil ngalamin

wah wis rampung” batin si Kolot. Berbulan bulan dia duduk di pohon kopi samping musholla itu menjadikannya sedikit ngiman , hafal bacaan doa lantaran maling sandal.
Bergegas di mengambil sepasang sendal kulit sintetis yang diselipkan seorang jemaah di bagian dalam samping pintu musholla. Kala itu koot malah melihat sejenak, dia marah sedikit, karena tempat ridurnya si karpet hijau bakal sedikit bau karena mblek lincung  di alas si sintetis. Tapi tak apa bagi si kolot, gantinya dia akan makan nasi padang di pasar kecamatan setelah tukar menukar sintetis itu terjadi.

Jancuk sendalku ilang !” teriak seorang dari depan musholla.
Huss, iki nang musholla ojo misuh ! “ ujar Mbah Nrimo yang tentu saja mengucap lafal doa di atas.
Kalau mbah Nrimo angkat bicara semua orang diam, memang begitu sepertinya hukum alam di kampung sini. Yasudah mereka bubar pulang ke rumah masing masing dengan biasa saja, terkecuali bagi si pemilik sintetis mukanya pucat. Bukan karena kehilangan sendalnya yang tak seberapa itu, dia lebih tertekan karena rumahnya harus mau tak mau melewati kandang menthok  kang Sunar yang kebetulan si leher panjang berjumlah 6 ekor itu sedang hamil semua. Walhasil, mbelek lincung  mau tak mau harus diinjaknya.

(Dan orang suci pun menyucikan dirinya, lalu mereka di nodakan pada sesuatu yang menjadikan kesuciannya batal. Ada keberanian yang didera oleh musibah bernama mengalah, apalagi kalau bukan pada  mbelek lincung)

..............
“Iki lah mu maling meneh lot ?” si penjual nasi padang berujar
“hihihihi.. “ jawab Kolot seperti biasa dengan kolotnya
Peduli setan, mau curian mau turun dari langit, harga sintetis itu paling tidak kalau dijual lagi dua – tiga kali harga nasi padang pakai ayam – sayap itu.

“whalah wareg tenan aku” tentu saja, kelakuan orang kolot, dia menaruh tangan di atas perut kalau kenyang, kalau lapar yang sama di atas perut, kolot bukan ?


.........

“kae le, nek kowe ora sekolah kowe gelem dadi Kolot ngono kae ?
“mboten buk, kulo ajeng sekolah, mboten purun kulo dadi kolot kaya kang Kolot”
“nah, nek ngono ayo tak terke nang sekolah”
“nggih bu “

Melihat itu kolot juga tertawa masih dengan kekolotannya.


(namanya bagai mantra, selalu diujar – tularkan oleh orang tua kepada anak)