Naik Kapal Sepulang KKN Melawi Makmur, Sanggau, KalBar

Sepulang KKN di Melawi Makmur, Sanggau, KalBar itulah kedua kalinya aku naik kapal. Pertama kali naik kapal ya jelas waktu keberangkatan KKN dari pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Kapal Lawit itu penuh desak waktu kami berangkat dari Pontianak menuju Tanjung Emas. Pemudik ramai naik kapal pulang kampung ke Jawa dan Bangka - Belitung, ya waktu itu kapal ini sempat singgah di Bangka atau Belitung, aku lupa.

Chaos.

Tiap orang berdesakan berlomba masuk ke kapal. Tiket yang menandai tempat duduk dan lain sebagainya, tak berlaku. Tiket kapal hanya semacam pajak retribusi pasar yang tiap hari ditarik oleh preman pasar berseragam : bukan sebagai bukti hak kepemilikan lapak pasar, namun cuma sebagai bukti bahwa yang pegang retribusi itu berkewajiban menyisihkan uang untuk preman pasar berseragam itu.

Eh, ada bedanya juga tiket kapal itu dengan tiket retribusi pasar. Tiket kapal ini adalah surat sakti untuk mengambil jatah makan tiap harinya. Menu makannya ya tentu saja seadanya, nasi sudah agak bau, sayur bening sampai beningnya kadang tidak ada yang berwarna hijau-hijau dan sepotong tahu kecil. 

Orang - orang selonjor kaki seenaknya dimana saja. Yang mengenaskan, mereka yang kurang beruntung, mau tidak mau harus tidur di depan WC atau dekat tempat sampah yang baunya keranjingan. Saking Chaos nya WC itu, sengaja pola makanku aku jaga demi satu tujuan : tidak berak selama dua hari di kapal !. Memang konyol tapi momen paling menyenangkan adalah saatnya nanti ketika berlabuh di Jawa, ada WC SPBU yang menanti untuk diberaki, itu sangat indah untuk dibayangkan.

Hei, kapal itu tidak juga seburuk yang aku cerca. Toh aku juga bisa motret - motret di kapal itu. Dan menarik menurutku, orang -orang kadang tak peduli, simpatinya hilang, tapi dari mata mereka sepertinya mereka sama-sama paham akan satu hal : mau gimana lagi. 

Ada satu hal yang lucu. Ketika itu kapal akan berlabuh di Bangka atau Belitong aku lupa, seseorang bertopi merah atau berjaket merah memanjat tower kapal atau kalau tidak salah di perahu darurat.

"Woi mas, kowe sik jaket abang (atau topi abang ?) muduno ndak tibo !" entah suara itu darimana datangnya.                                    

 "Woi kowe kuwi loh ! Iyo kowe malah tingak - tinguk, muduno !" suara itu lagi.

Spontan semua orang tertawa di dek paling atas kapal tempat kami tidur dan berjemur dua hari. Hiburan,  kapan lagi ? menikmati banyolan tingkah penumpang yang ada - ada saja, dan petugas kapal yang naik darah ditengah kondisi "mau gimana lagi" yang kami alami itu.