Hit the street (again !)

Beberapa saat sempat bosan dengan streetphotography alasannya ndak mutu : karena sudah terlalu banyak bertebaran foto SP di luar sana. Tapi sebenarnya aku merasa senang sih, jadi akhirnya kuputuskan untuk turun lagi ke jalan, cuman sekarang ndak  tau apakah masih SP atau bukan, yang jelas senang-senang saja turun ke jalan sambil motret.  
Kalau-kalau ya ada yang ngomong ini - itu foto nyetrit  sekarang aku cuman respon : ra urus bro ! sing penting koe seneng !Foto-foto yang kubuat bagiku kok  lebih berasa kalau dibilang sebagai catatan perjalanan secara visual tentu saja, fungsinya sih  kalau menurutku sebagai pengingat saja : oh dahulu aku pernah ke sana, jadi bisa memanggil kembali kejadian apa pas waktu itu, juga apa yang aku pikirkan waktu itu, lha ini kan sangat private kan berkebalikan dengan yang katanya SP ?Sing penting koe seneng bro ! 














Nah kalau foto-foto dalam set ini aku ambil mulai dari Jogja waktu menjemput kekasihku, sampai ke Tulungagung waktu aku tes pekerjaan. Semuanya kubuat dengan kamera kesayanganku Fujiflm X100S.

Kopi Ijo Bolorejo Tulungagung


Kalau ke Tulungagung jangan terlewat untuk ngopi di Bolorejo, Kecamatan Kauman. Di sana ada warung kopi yang menawarkan koi khas Tulungagung, kopi ijo. 
Bukan warnanya ijo setelah dibuat, tapi karena campuran dari kopi dan kacang ijo yang ditumbuk. Kenapa kacang ijo aku belum tahu alasannya, tapi yang jelas banyak yang minat dengan kopi ini. Warung kopi Mbak Tin yang aku kunjungi misalnya, dari depan jalan Bolorejo ini terlihat puluhan motor parkir. Itu pun di bulan puasa entah kalau bulan biasa. 
Warung kopinya sederhana, tidak ada dekorasi atau tulisan ala-ala anak muda di kafe kekinian, hanya kursi dan bangku meja panjang dengan gorengan dan nasi bungkus. 
Begitu masuk warung kopi itu, suasana yang aku dapati sangat ramah. Aku merasa masuk dalam keluarga, keluarga sesama penyuka kopi. Mereka hanya menyajikan satu cara penyajian kopi yakni dengan di tubruk, puluhan gelas berisi kopi bubuk ijo dan gula sudah di tata sedemikian rupa kalau ada yang memesan kopi tinggal dituangi air panas lalu disajikan, sudah begitu saja. Kopinya pun tidak diantar tapi diambil sendiri oleh pembeli. 
Pulang dari sana aku tak lupa memesan 1kg kopi ijo bubuk seharga 65rb/kg untuk oleh-oleh. 








Bahagia itu sederhana

 Lima jam lebih perjalanan menggunakan motor tentu saja aku merasa bosan. Tak hanya itu, siang hari di jalanan yang ramai lengkap dengan terik panas dan emosi marah para pengendara karena macet di lampu merah, persimpangan atau di dekat papan bertuliskan “pelebaran jalan” itu membuatku turut naik darah. Pengendara motor selap-selip, sementara di jalur tengah atau jalur kiri banyak roda empat yang hanya di duduki satu-dua orang itu seperti hilang sabarnya, teett-tooott suara-suara klakson roda empat itu bak daging kambing muda bagi penderita darah tinggi.
Sementara dari headphoneku masih terdengar lagu Nine Inch Nails – The Hands That Feed jelas membuatku semakin marah pula berpikir di bawah terik di atas karpet hitam ini. Apa yang sebenarnya para orang – pengendara ini? Plat nomor beragam itu baik dari barat, timur atau dari kota yang sedang kulewati ini, pastinya mereka punya tujuan dan urusan masing-masing. Bisa saja mereka bekerja, liburan, atau sekedar mengunjungi keluarga meski demi menuju tujuan itu perlu bahan bakar macet dibumbui marah pula di jalanan.
Baik yang bekerja di kantoran, yang kerja di bangunan, yang jualan dipinggir jalan, yang melamun dibawah pohon durian, pasti toh mereka semua punya tujuan yang sama : bahagia. Sebenarnya lalu lalang ini, perjalanan ini, toh berujung pada muara yang bernama bahagia pula. Tapi di mana sebenarnya si bahagia itu bisa ditemui ?
Lima jam kemudian aku sampai di rumah kekasihku. Depan rumahnya memang hamparan sawah, di antara sawah itu terdapat lapangan yang kini sedang rami untuk dijadikan pasar malam. Tepat di samping pasar malam itulah, sawah yang kering karena kemarau itu jadi arena bermain anak maupun yang sudah dewasa. Melihat mereka bermain seperti tak ada beban, selidik aku berjalan ikut mereka. Layang-layang itulah kiranya kendaraan yang mengantarkan mereka kepada kebahagian, bukan roda dua ataupun empat.
Ada pula yang bermain merpati, berlari di pematang menuju ujung paling jauh, lalu dilepaskannya merpati yang memang gandrung dengan pasangannya di seberang. Dan wusss terbanglah dengan segera burung-burung itu. Lagi-lagi merpati itu kendaraan yang menerbangkan kebahagiaan. Melihatnya saja orang sudah bahagia apalagi bermain bersama burung-burung itu. 
Hal yang membuatku mikir sebenarnya dibalik itu semua ada kunci yang menjelaskan mengapa yang namanya perjalanan  tak akan berujung pada muara yang tepat di dunia saat ini. Di bawah kungkungan iming-iming sejuta barang yang menjanjikan kebahagiaan di berbagai media, tak lain itu semua semu, pseudo. Pernah kan pasti melihat iklan mobil keluarga ? semuanya tergambar ceria baik si bapak ibu dan anak kala naik mobil ? Tapi pernah kan melihat pengendara bermuka pucat, berkelakuan seenaknya kala di jalanan ? Pernah kan melihat iklan rokok menggambarkan anak muda, yang laki-laki apalagi, terlihat sangat maskulin, seolah-olah paling menang di dunia ? Ada juga yang mencoba provokasi lewat iklan rokok seolah berlaku cerdas tapi sebenarnya sama saja pseudo : nanti lo juga paham ? Tapi kalau semua pada akhirnya sudah merokok berujung sakit, nah.
Dunia yang konsumeris, membuat orang tak hanya menjadi komoditas itu sendiri, namun menjual bahagia atas nama nilai-nilai semua yang disematkan di setiap barang yang dimiliki.
Tapi kawan, bahagia tak harus dengan seperti itu, banyak kendaraan di luar sana yang bisa mengantarkanmu berlabuh menuju muara bahagia, merpati dan layang-layang misalnya, sangat sederhana dan murah, dan yang paling penting itulah esensi hidup yang paling hakiki.
Salam !