Lima jam lebih perjalanan menggunakan motor tentu saja aku
merasa bosan. Tak hanya itu, siang hari di jalanan yang ramai lengkap dengan
terik panas dan emosi marah para pengendara karena macet di lampu merah,
persimpangan atau di dekat papan bertuliskan “pelebaran jalan” itu membuatku
turut naik darah. Pengendara motor selap-selip, sementara di jalur tengah atau
jalur kiri banyak roda empat yang hanya di duduki satu-dua orang itu seperti
hilang sabarnya, teett-tooott suara-suara klakson roda empat itu bak daging
kambing muda bagi penderita darah tinggi.
Sementara dari
headphoneku masih terdengar lagu Nine Inch Nails – The Hands That Feed jelas
membuatku semakin marah pula berpikir di bawah terik di atas karpet hitam ini.
Apa yang sebenarnya para orang – pengendara ini? Plat nomor beragam itu baik
dari barat, timur atau dari kota yang sedang kulewati ini, pastinya mereka
punya tujuan dan urusan masing-masing. Bisa saja mereka bekerja, liburan, atau
sekedar mengunjungi keluarga meski demi menuju tujuan itu perlu bahan bakar
macet dibumbui marah pula di jalanan.
Baik yang bekerja di
kantoran, yang kerja di bangunan, yang jualan dipinggir jalan, yang melamun
dibawah pohon durian, pasti toh mereka semua punya tujuan yang sama : bahagia.
Sebenarnya lalu lalang ini, perjalanan ini, toh berujung pada muara yang
bernama bahagia pula. Tapi di mana sebenarnya si bahagia itu bisa ditemui ?
Lima jam kemudian aku
sampai di rumah kekasihku. Depan rumahnya memang hamparan sawah, di antara
sawah itu terdapat lapangan yang kini sedang rami untuk dijadikan pasar malam.
Tepat di samping pasar malam itulah, sawah yang kering karena kemarau itu jadi
arena bermain anak maupun yang sudah dewasa. Melihat mereka bermain seperti tak
ada beban, selidik aku berjalan ikut mereka. Layang-layang itulah kiranya
kendaraan yang mengantarkan mereka kepada kebahagian, bukan roda dua ataupun
empat.
Ada pula yang bermain
merpati, berlari di pematang menuju ujung paling jauh, lalu dilepaskannya
merpati yang memang gandrung dengan pasangannya di seberang. Dan wusss
terbanglah dengan segera burung-burung itu. Lagi-lagi merpati itu kendaraan
yang menerbangkan kebahagiaan. Melihatnya saja orang sudah bahagia apalagi
bermain bersama burung-burung itu.
Hal yang membuatku mikir
sebenarnya dibalik itu semua ada kunci yang menjelaskan mengapa yang namanya
perjalanan tak akan berujung pada muara yang tepat di dunia saat ini. Di
bawah kungkungan iming-iming sejuta barang yang menjanjikan kebahagiaan di
berbagai media, tak lain itu semua semu, pseudo. Pernah
kan pasti melihat iklan mobil keluarga ? semuanya tergambar ceria baik si bapak
ibu dan anak kala naik mobil ? Tapi pernah kan melihat pengendara bermuka
pucat, berkelakuan seenaknya kala di jalanan ? Pernah kan melihat iklan rokok
menggambarkan anak muda, yang laki-laki apalagi, terlihat sangat maskulin,
seolah-olah paling menang di dunia ? Ada juga yang mencoba provokasi lewat
iklan rokok seolah berlaku cerdas tapi sebenarnya sama saja pseudo : nanti lo juga paham ? Tapi kalau
semua pada akhirnya sudah merokok berujung sakit, nah.
Dunia yang konsumeris,
membuat orang tak hanya menjadi komoditas itu sendiri, namun menjual bahagia
atas nama nilai-nilai semua yang disematkan di setiap barang yang dimiliki.
Tapi kawan, bahagia tak
harus dengan seperti itu, banyak kendaraan di luar sana yang bisa
mengantarkanmu berlabuh menuju muara bahagia, merpati dan layang-layang
misalnya, sangat sederhana dan murah, dan yang paling penting itulah esensi
hidup yang paling hakiki.
Salam !