Minimarket pertama di Distrik, kedua se-Kabupaten. Mendokumentasikan space as encounter

Kamis 15.08.2024 kemarin adalah kali pertama minimarket berwarna merah itu hadir di distrik ini. Berduyun - duyun warga menjejaki bangunan baru minimarket itu. Tidak hanya warga dari kampung ini, beberapa kampung lain yang berjarak empat kilo meter sampai belasan kilometer hadir dalam acara pembukaan itu. Entah mereka hadir karena kehendak masing-masing, akan rasa penasaran terhadap "barang baru", atau mungkin juga karena mereka bersamaan mengantar anak-anak mereka mengikuti karnaval hari kemerdekaan lalu singgah sejenak karena alasan pertama "penasaran", "ingin tahu"

Salah seorang karyawan minimarket mengenakan pakaian adat dalam acara pembukaan perdananya. Doc IR

Oh ya, sebelum cerita lebih panjang. Sebenarnya aku bisa memasuki minimarket ini selepas mengantar anak mengikuti acara karnaval yang sekalogus sebagai project pelajar pancasila - sebuah program dari kurikulum sekolah siswa masa sekarang. Aku mengiringi anak berjalan sekitar satu kilometer dari sekolah ke lapangan kampung. Selama karnaval itu, bahasan soal minimarket sering didengungkan para orang tua, wali siswa, guru, kepala sekolah, pedagang sempol, cilok, you get the point - oleh semua orang!

Anak-anak mengenakan kostum pakaian adat yang dimandatkan oleh para guru dan kepala sekolahnya. Melihat keramaian itu, para karyawan yang memang sedari awal sudah berkostum baik pakaian adat atau kostum totemnya - lebah kuning menyambut rombongan karnaval dengan gembira. Seseorang memakai kostum karyawan minimarket itu agak berbeda, dari pesolekannya nampak lebih rapi: rambutnya mengkilap - sisirannya membuat helai-helainya membentuk lekuk yang presisi, bajunya dimasukkan ke celana jeans warna hitam dan diikat dengan ikat pinggang berlogo buaya. Jelas dia beda dengan karyawan lainnya, segera dia memanggil karyawan berkostum lebah dan berbaju adat itu (baik yang laki juga yang perempuan) untuk merapat ke jalan, mendekati rombongan karnaval siswa se-distrik ini. Lantas berpose mereka dengan latar iringan anak-anak bersama para emaknya. Mereka melambaikan tangan ke rombongan karnaval, dan anak-anak itu melihat lebah besar berwarna mencolok mata, sontak memberi respon dengan teriakan senang: ada lebah besar! ada lebah! iya besarnya!. Senang, anak-anak itu juga melambaikan tangan kepada para karyawan itu.  


Anak-anak memakai pakaian adat yang umumnya sesuai etnisitas mereka, didampingi para emaknya dalam iringan karnaval. Doc IR

Dirasa waktunya tepat, si karyawan yang menyuruh karyawan lainnya itu lantas memegangi handphonenya yang berlogo buah dengan tiga bulatan besar dibelakangnya itu. Dibolak-baliknya kamera itu macam gorengan, posisi landscape-portrait-depan untuk selfie dan belakang. Setelah beberapa saat dia lantas melambaikan tangan ke iringan karnaval. diucapkannya berkali-kali "terima kasih adek-adek!". Senyum merekah dari mereka disambut tawa dari anak-anak. Mereka mungkin sama-sama gembira, para karyawan gembira karena mungkin itu akan menjadi momen yang tepat untuk dilaporkan ke pimpinan mereka. Sementara para anak dan emak rombongan karnaval ini, mereka gembira karena mungkin merasa disambut, terutama anak-anak karena melihat lebah besar kuning itu. 

Karyawan minimarket memakai kostum lebah dan pakaian adat. Keluar dari minimarket tak sedikit anak yang mengajak emak mereka untuk berfoto dengan si lebah itu. Doc IR

Karnaval usai, berbondong orangtua dan anak-anak menuju minimarket. Lokasi parkirannya sangat luas. Cukup untuk menampung puluhan sepeda motor dan beberapa mobil besar sekalipun. Lokasinya berada di samping bank (masih jadi pertanyaanku, kenapa selalu begitu mereka menempatkan lokasi minimarket disamping bank atau atm, karena dekat sumber uang? memudahkan pelanggan segera ambil uang dan untuk dibelanjakan? entahlah). 

Aku sekeluarga pun turut masuk ke minimarket itu untuk mengamati lebih dalam. Bagiku momen seperti ini sangat menarik. 

Para pengunjung yang akan masuk disambut oleh karyawan perempuan berbaju adat Papua. Mungkin dia ditugasi atasannya untuk menyambut pengunjung ditambah membuka dan menutupkan pintu. 

Sungguh pengalaman baru yang tiada dirasa di toko dan warung di sini. Jangankan dibukakakn pintu, belanja di warung atau toko di kampung ini seringkali malah mendapat tanggapan datar dari para penjualnya. Aku masih ingat ketika hendak membayar belanjaanku di salah satu toko paling lengkap di kampung ini, seringkali antrianku dipotong. Aku tidak mau memotong antrian orang lain meski anakku sudah mengeluh "Ayah kenapa lama sekali!". Mendengar komplain anakku, para pengunjung lain dan penjualnya mengatakan "Maju saja Mas, kalau gak gitu yang jadi paling belakang" ujar penjual. "Iya itu Mas kasihan anaknya, daritadi dipotong terus"

Para pengunjung antre secara tidak rapi, tapi tidak ada yang saling mendahului. Tidak ada omongan dari penjaga kasir untuk menjaga antrean, juga tak ada tanda untuk tertib. Entah apa yang menyebabkan itu bisa terjadi, apakah karena penjaga kasir memakai seragam sehingga nampak lebih formal, atau karena mesin-mesin yang entah apa namanya yang baru didengar oleh para pengunjung, atau entah karena pertanyaan dari penjaga kasir atau rayuan mereka untuk membeli lebih banyak barang? entahlah. Doc IR

Di minimarket ini, pengunjung dibukakan pintu, bahkan tidak perlu menutup pintu, sudah ada karyawan sendiri yang menunaikan kegiatan itu. Panasnya cuaca di luar minimarket yang memang kebangetan - bahkan kalau duduk saja tidak gerak, keringat keluar dengan sendirinya - seketika sirna. Sebab begitu pintu dibukakan, ada kipas yang tidak biasa terlihat di kampung ini: bentuknya balok memanjang, arahnya turun kebawah, langung kena kepala dan pundak orang yang melewatinya. Kulihat para pengunjung itu bergitu masuk langsung melihat ke atas seperti mencari tahu darimana asal-muasal angin sejuk artifisial. 

"Baah dingin!" ujar seorang anak sambil menunjuk-nunjuk beberapa AC yang menempel di tiap pojokan. 

Anak-anak adalah yang paling bersemangat. Begitu masuk, mereka berlarian menelusuri tiap lorong dari kiri ke kanan dari yang isinya rak minuman dan lemari es krim dan berujung minuman sachetan, lalu ke lorong snack, utilities dan seterusnya. Mereka seperti menemukan dunia yang baru, meski di toko lain di kampung ini juga menyusun rak dan juga ada lorong-lorongnya, namun di sini jauh lebih rapi. Semua barang diletakkan dalam rak berdasarkan jenisnya secara konsisten dengan alur lorong yang mungkin sudah dipikirkan oleh para ahli marketing dan psikologi konsumen, maklum minimarket ini kan memang perusahaan besar, muskil rasanya hal-hal itu tidak diperhatikan dengan detail. 

Berbanding terbalik dengan berbagai warung dan toko di kampung ini, barang diletakkan pada awalnya sesuai kategori dengan dasar agar mudah dicari - bukan untuk menarik atau mengarahkan pengunjung agar banyak membeli. Contohnya: di salah satu toko yang baru dibuka di kampung ini, lorong dan rak itu terkesan random saja dimana rak bumbu dan mie instan berdampingan dan berhadapan dengan rak racun nyamuk. Kategori rak dan lorong yang random itu seringkali membuat pengunjung bertanya ke yang punya barang: "Mas Joko, shampo di sebelah mana?"... "Kae sebelah tepung!" teriak si penjual dari depan. 

Apalagi kalau belanja di toko kampung ini sambil mengajak anak, sangat merepotkan. Lorong sempit karena rak-rak dimampatkan, tujuannya untuk menampung barang lebih banyak. Sekilas aku berpikir ketika awal masuk ke toko-toko ini lebih nampak seperti gudang ketimbang menjajakan barang dagangan. Hal-hal seperti itu seringkali membuat anak kecil menjatuhkan satu dua barang. Cemas dan was-was, orangtua sering melarang anak berjalan sendiri di toko-toko ini, karena bisa saja anak tertarik ke jejeran rak snack yang bersandingan langsung dengan barang pecah belah. Sementara di minimarket ini, anak-anak lebih leluasa. Lorongnya dibuat seragam jaraknya, dan jauh lebih lebar. 

Di dalam minimarket, anak-anak seringkali membuat emak-emak mereka kewalahan. Berapa kali sudah kudengar mereka memanggil nama anaknya sambil clingak-clinguk mencari lewat mata. Ya, memang kebanyakan yang masuk ke minimarket ini adalah para emak dan bocils. Entah kemana para bapaknya sedari tadi saat karnaval, hanya beberapa saja yang nampak. 

Aku masih memegangi kameraku, sambil melihat sekeliling ketika kudengar teriakan anak-anak yang mengarah ke satu tempat. Tak lama kemudian terdengar suara lantang berulang: 

"Es krim... Disini Es krimnya" lantang teriak karyawan menjajakan "lapak" / pos jaganya. 

Sekonyong banyak anak yang mendengar langsung mendekati pos itu. Di lemari es krim itu, anak-anak bernegosiasi secara langsung dengan orangtua mereka untuk membelikan es krim tentunya. Si karyawan dengan lihai menawarkan iming-iming harga spesial, khusus pembukaan ini lebih murah beberapa ribu rupiah, begitu yang kudengar. Tak ada pilihan lain bagi para emak dan bapak, selain membuka pintu geser lemari es itu dan mengambil apa yang telunjuk anaknya arahkan. 

Negosiasi es krim. Doc IR

Minimarket ini sekali lagi, adalah yang pertama di Distrik ini, dan mungkin baru yang kedua di Kabupaten ini. Mendokumentasikan infrastructure as a space of encounter ini sangatlah menarik bagiku. Kujumpai berbagai hal absurd yang tentunya tak bisa aku ceritakan lebih dalam disini, begitu kaya saturasi respon dari berbagai ragam pengunjungnya. Tak hanya itu, kesan kontras dan juxtapose yang kudapati sangatlah kental. Minimarket ini hadir selepas setahun pembangunan jalan sepanjangan beberapa kilometer menghubungkan kampung ini dengan satu kampung lainnya. Mungkinkah itu salah satu justifikasi dari developer dan investornya? Entahlah. Rasa-rasanya yang kuceritakan ini lebih banyak menimbulkan pertanyaan lanjutan timbang kejelasan. 

Yasudahlah. Sekian dan sehat selalu. 

Oh ya semua foto ini diambil menggunakan Nikon D40 dan AFS 35mm, editing dengan VSCO (sudah mirip film belum?)
Foto ini bagiku sangat menarik, aku tak mau memberikan caption yang menarasikan. Doc IR

Namanya juga belajar

Belajar sketsa itu bikin kecanduan

Menuangkan imajinasi, observasi, dan rasa dari indra lainnya dalam bentuk sketsa memang menyenangkan. Bahkan cenderung membuat ketagihan, meski jari sudah pegal, dan entah berapa jam sudah "terbuang" untuk corat-coret, tetap saja aku lakukan itu. Apa sih yang membuat sketsa atau menggambar itu sebegitu candu? 

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada baiknya aku mengulas sedikit kenapa aku bisa masuk ke dalam bujuk rayu sketsa ini. 

Baru-baru ini aku membuat facebook untuk bergabung ke grup dan komunitas untuk mencari informasi teknis untuk keperluan yang lain. Lalu mungkin alam bawah sadar membimbingku ke grup hobi, di mana aku mneyukai fotografi maka aku bergabung ke beberapa grup fotografi seperti fotografi ponsel Indonesia, 35mm Film Photography Club, Medium Format Photography, Mamiya Photos, Six Mega Pixel Club, dll. Dari sana mungkin algoritma Facebook mulai berjalan, terdapat beberapa saran grup seperti grup lukisan klasik, dan kemudian kujumpailah grup Sketch in travel, dan Urban Sketch Grup. Pada awalnya kulirik saja isi grup itu, lalu lama-kelamaan aku melihat bagaimana orang-orang membagikan sketsa mereka yang menarik, menggambarkan berbagai situasi dan tempat yang menurutku aneh: pojokan jalan, pohon-pohon yang semprawut, kabel-kabel dan perumahan padat, semua hal yang kukira hanya aku sendiri yang merasa terprovokasi akan hal itu, ternyata banyak orang menangkapnya sama denganku. Sebelumnya, aku merasa iritasi jika mataku melihat centang-prenang kabel-kabel di perkotaan, pedesaan, dimana saja. 

Dulu aku sering mendokumentasikan hal itu, kala masa kuliah, jalan-jalan yang asri ditumbuhi pepohonan, bagus sekali untuk dipotret, tapi ada saja baliho partai, atau kabel listrik yang merintangi. Kala naik gunung: menuju gunung itu melewati pasar-pasar yang asyik suasananya, aku foto tapi ada saja kabel yang memotong gunungnya. Semua itu tidak terhindarkan, tpai lama-kelamaan aku jadi memiliki pemahaman lain, ya memang itulah wajah negara ini. Keindahan dari suasana keseharian masyarakatnya tercipta secara harmoni dan juga konflik, keduanya membuat atmosfer yang memorable. Lalu hadirlah segala baliho, kabel listrik, pipa air dan lainnya, menambah rumit, mata seperti eneg melihat berbagai detail itu. Tapi dalam keseharian, aku dan mungkin kalian yang membaca, diam-diam bersalaman: siapa juga yang melihat hal-hal itu. 

Tak heran, kalau wisata seringnya orang kita mencari pemandangan yang sederhana: melihat pantai, gunung, bukit, bahkan sering tak sungkan membuat kesederhanaan dan keteraturan artifisial: masih ingat dengan booming taman bunga wisata?. Kita benar-benar ke taman itu hanya melihat bunga yang ditata sedemikian rapinya, berdasarkan jenis bunganya atau warnanya, dan ya itu saja. Tapi itu pun masih ada bonus ada "lope-lope"-nya. Somehow, kita gak bisa meninggalkan kerumitan macam "lope-lope" itu dalam kesederhanaan yang sudah kita bentuk bahkan secara artifisial. 

Kembali ke sketsa, dari dua grup sketsa itu aku menemukan ternyata visual keseharian atau mungkin bisa juga disebut vernacular sights itu, ternyata menarik. Selama ini aku hanya memikirkan soal itu, dan sering kulimpahkan lewat foto, tapi foto adalah proses yang instan: memang kita melihat dan membuat framing sendiri, namun yang perlu kita lakukan hanyalah menekan telunjuk ke tombol rana. Sudah itu saja. 

Aku mendapati beberapa pemahaman dari sketsa yang sangat berbeda dari praktik hobi fotografi. Dan dari itulah aku merasa tertarik. Nanti aku jelaskan apa saja yang kupahami itu, tapi sekarang aku ingin mengulas singkat perjalananku belajar sketsa. 

Pada awalnya aku merasa sketsaku sangat konyol. Terlalu buru-buru, dan berharap segera jadi: karena jujur saja, membuat sketsa itu membuat pegal jari dan memerlukan waktu yang cukup lama. Sejauh ini, paling cepat aku membuat sketsa-sketsa itu adalah 10 menit, dan paling lama dua jam dalam rentang waktu dua hari. 

Setelah membuat beberapa kali dengan menekan egoku sendiri, aku geleng-geleng kepala dan terheran-heran: Aku sangat puas dengan sketsa yang kubuat sendiri! Sejak jaman SD mulai menggambar, baru kali ini secara sadar aku merasa puas dengan hasil gambarku sendiri. 

Lalu berikutnya aku mulai tertantang dan mencoba menggambar dari berbagai referensi yang sangat menantang bagiku: sungai kumuh, gunung dan hutan, dll. 

Baiklah kembali ke bahasan apa saja yang kupahami dari membuat sketsa. Simak berikut: 

  • Pengamatan sangatlah penting 
  • Memperhatikan detail 
  • Kontrol ego, sabar, dan telaten
  • Membedakan apa yang benar-benar dilihat dan apa yang terlihat di dalam kepala
  • Dekonstruksi ilusi untuk membuat ilusi 
  • Interpretasi dan kebebasan (tak peduli dimana, kapan, aku bisa jalan kemana saja, tiada yang melarang, tiada yang marah, cukup diriku dan pikiranku sendiri)

Sebenarnya masih banyak yang belum tereksplore olehku selama belajar sketsa ini, tapi sementara itu yang baru aku pelajari. Berikut aku jabarkan refleksiku itu: 

Pengamatan sangat penting

Coba apa yang kira-kira pertama aku lakukan untuk buat sketsa? Bukan menyiapkan alat, kopi, rokok atau yang lainnya. Tapi aku mulai dengan berkhayal, membuat gambaran di kepalaku. Poin ini bagiku sangat penting untuk menentukan apa yang ingin aku gambar nanti. Dan hal ini berhubungan juga dengan poin pelajaran yang kudapat yakni interpretasi dan kebebasan. 

Apa sih pengamatan itu? dan kenapa itu penting bagiku ketika belajar sketsa ini? 

Sudah kusinggung sedikit sebelumnya, dalam keseharian seringkali kita hanya fokus pada apa yang menjadi tujuan kita. Misalnya, disuruh emak beli sayur ke pasar, maka yang terlihat di kepala kita itu mungkin hanya sesisir pisang, beberapa terong, seikat serai, jahe, kunyit, laos, dll. Atau mungkin terlihat bagaimana suasana pasar: dipenuhi emak-emak (tiada bapak-bapaknya, mungkin lagi pada ngerokok di rumah), jalan menuju pasar lewat mana yang paling cepat, dll. 

Entah mataku yang sakit, atau memang pilihanku yang aneh, aku lebih tertarik pada pojokan jalan, bau ikan asin, atau makanan yang bakal dimasak emak dari sayur yang kubeli. Artinya, jika kita ingin membuat sketsa untuk tujuan menceritakan atau menuangkan apa yang terlihat di kepala, sebenarnya kita bebas memilih apa saja. "Beli sayur ke pasar" apa yang terlintas di benakmu? jangan dikira pojok jalan, bau ikan asin, kabel-kabel listrik itu tidak berhubungan, sebab itu yang mungkin kita cium dan lihat sepanjang perjalanan ke pasar. Tapi dalam keseharian kita seringkali abai dengan hal-hal yang tidak penting itu. 

Coba berhenti sejenak dan perhatikan, ulir kabel itu gimana sih? kabel itu menghubungkan dari mana ke mana - kenapa ke ruko satu tapi tidak ke yang lain? dst. Pengamatan semacam itu, bagiku sangat menarik, dan membuatku sedikit merubah posisi dari menjalankan rutinitas menjadi yang melihat rutinitas. Dan poin ini penting, karena akan menuntun pada pelajaran yang lain seperti dekontruksi ilusi. 

Mungkin kalian yang baca akan bertanya, tapi ini soal membuat sketsa kok malah sampai ke dekonstruksi atau apalah itu? tenang, nanti ada hubungannya. 

Memperhatikan detail


Nyambung dari bahasan sebelumnya, ulir kabel itu bentuknya kaya gimana? lalu kalau itu cukup menarik bagi kalian, pertanyaan selanjutnya: gimana cara gambarnya? dst

Detail itu penting, entah mau gambar bebas atau yang hyperrealistic sekalipun. Garis, titik, sudut, bayangan, dll itu semua penting. Tapi sebelum terlalu jauh, disclaimer  ya: aku nggak tahu sebenarnya teknis soal ini, ini hanya apa yang aku alami saja. Aku tidak ada background seni apapun. 

Detail-detail itu akan membentuk gambaran secara keseluruhan, artinya hasil akhir itu akan ditentukan oleh bagaimana kita membuat detail itu. 

Coba kalau ditarik ke kehidupan keseharian, kalau kerja umumnya pada minta hasil jadi, tidak mau ribet bahas detail kecil, tapi sesungguhnya itu kan menjadi pengalaman bekerja kita secara keseluruhan. Simpel aja contohnya, disuruh bos kumpulin laporan, tidak mau soft file, tapi hard file. Pas mau print ternyata antre dengan teman yang lain, eh pas giliran kita udah abis tinta atau kertasnya. Kita mesti cari dua hal itu, sementara sudah ditunggu. Yang terlintas di pikiran mungkin "gimana jelasinnya, gimana ini, dll". Atau contoh lain lebih mudah, bayangkan saja nama kalian salah huruf, kelebihan atau kekurangan huruf pas mau kumpulin data untuk pembuatan ijasah atau dokumen penting lainnya, fatal kan?. Kalau mau revisi pun, orang admin bakal mikir: makanya di cek dulu yang bener, "gambaran" yang ada dalam diri kita kemudian adalah: lalai, kurang cermat, terburu-buru. 

Detail, mau dalam sketsa atau kehidupan sangat-sangatlah penting. 

Tidak hanya soal membuat garis, titik, dsb., sampai pada bagaimana kita meraut pensil, memilih jenis bolpoin, cara menghapus, jenis kertas, semua detail itu sangat penting dan berpengaruh. 

Kontrol ego, sabar dan telaten

Ini adalah hal tersulit. Mempertimbangkan poin sebelumnya, yakni detail, maka kesabaran kita diuji. Ego kita juga bisa menjadi-jadi karena kita lebih memilih menekankan pada garis tertentu dibandingkan titik atau arsir yang lain. Dan itu semua memerlukan ketelatenan. 

Sederhana kan kalau ditulis? coba kalau diterapkan, bakal jadi cerita lain. Tapi semua itu bisa pelan-pelan dilatih, dan inilah salah satu hal yang baik kukira dari belajar sketsa. Masalahnya adalah kalau kita tidak bisa menyeimbangkan, macam apa yang kulakukan: lebih fokus pada sketsa dan lupa waktu. 

Membedakan apa yang benar-benar dilihat dan apa yang terlihat di dalam kepala


Mata itu menipu. Kalimat itu sering kudengar kala belajar foto jaman dulu. Otak kita membuat hubungan garis-garis imajiner dan membentuknya secara identik dengan apa yang pernah kita lihat, atau mungkin juga warisan hewaniah kita, sebagai sistem pertahanan. Katakanlah kalau melihat dua titik merah berdekatan diantara pohon di malam hari, kita mungkin merinding karena mengira itu hantu (namun alam bawah sadar bisa jadi itu warisan moyang kita yang waspada bahwa itu hewan buas, bisa jadi), padahal kalau kita lihat dengan seksama, mungkin itu warna merah dari lampu tower sinyal yang entah gimana ceritanya bisa nembus ke semak dan pepohonan. 

Itu pula yang coba kuterka, paling sulit bagiku adalah menggambar mata dan tangan. Aku selalu melihatnya secara keseluruhan mata itu bentuknya seperti itu, tangan juga seperti itu. Padahal yang bicara adalah apa yang nampak di otakku, bukan yang benar-benar aku lihat. 

Dalam sketsa aku melihat mata, tangan dan semua hal, intinya adalah garis dengan sudut dan tonal tertentu. Pun berhasil melihatnya seperti itu bukan jaminan kita bisa menggambarnya, sebab itu dua hal yang berbeda. 


Dekonstruksi ilusi untuk membuat ilusi

Coba ditimang, dipikir penjelasan sebelumnya. Semua benda atau hal dalam sketsa itu cuman garis dsb, tapi kenapa ketika kita lihat hasilnya seolah nyata. Ya, sebab otak kita memang hebat, mampu membuat tafsir identik dan memunculkannya dalam kepala meski barangnya tidak ada. Gak percaya? bayangin aja kecutnya mangga muda, pasti kebayang rujak, atau hijaunya mangga muda, dst. 

Tapi disinilah kita membredel semua itu, mendekonstruksi. Mata bukan sebagai mata, orang bukan sebagai orang, pohon bukan sebagai pohon, tapi kumpulan garis yang saling terhubung dengan tonal yang unik dan beragam. 

Lalu setelah kita berhasil membredel itu, bukankah yang kita coba goreskan, segala corat-coret, hapus, arsir itu adalah proses membuat ilusi baru yang nantinya dihubungkan kembali oleh otak kita masing-masing. 

Recursive, dan aneh. Menelanjangi untuk kemudian memakaikan pakaian. Mungkinkah ini yang dimaksud tiada yang benar-benar baru? Entahlah. 

Interpretasi dan Kebebasan

Kita sudah mengamati, memperhatikan detail, melatih ego, dsb. Lalu sampailah pada kita memaknai, apa yang kita lakukan ketika membuat sketsa tak lain adalah proses mengimbuhkan makna. Kita terinspirasi dari berbagai sumber untuk ide awal, lalu kita memberikan sentuhan kita sendiri agar sesuai dengan yang terbayang di kepala. 

Disinilah letak kebebasan itu, dan hal ini kukira yang membuat sketsa itu layaknya candu. Aku kecanduan kebebasan untuk menuangkan apapun itu, tiada yang melarang, tiada yang marah, hanya diriku sendiri dan pikiranku. 

Dan proses itu akan terus berkembang, sampai ketika hasil akhir dilihat orang lain. Atau bahkan ketika kita lihat sendiri, segala rahasia salah membuat garis, salah mengarsir, kita akan ketahui sendiri. Bisa diperbaiki, atau bisa dibiarkan. Disitulah kupikir letak bebas tafsirnya. 


Lalu, kenapa dibuang?

Sudah cukup aku belajar sketsa untuk saat ini, tak tahu untuk kedepannya. Karena satu hal, aku belum bisa menjaga keseimbangan. Belajar membuat sketsa itu tiada nilainya sama seperti melakukan hal apapun, namun kita yang memberikan nilai kepada aktifitas itu, entah baik-buruk, sedang-jelek-bagus, dsb. Kalau aku bisa kebablasan dan asik dengan duniaku sendiri dalam sketsa, artinya aku kurang adil dan seimbang. Dan itu berlawanan dengan pelajaran yang kuperoleh yakni untuk melatih rasa sabar dan telaten. 

Total 27 Sketsa yang aku buat selama dua minggu terakhir.
Apapun itu jika terlalu berlebihan kemungkinan besar tidak akan berujung baik. Keselarasan itu hal yang nyaris mustahil, tapi setidaknya bisa didekati dan diusahakan. 


















Percobaan ketiga

 

04.08.2024

Belajar menggambar sketsa adalah pengalaman baru bagiku, dan setelah percobaan ketiga ini aku belajar lagi satu hal yakni ini soal interpretasi. 

Sama dengan tulisan, foto atau video, sketsa juga memberi ruang untuk interpretasi kalau bukan memang itu tujuan utamanya. Pada percobaan ketiga ini, aku tertarik pada foto salah satu member dari grup facebook bernama 35mm Film Photography Club. Foto dari member tersebut bisa kalian lihat di sini

Sedapat mungkin aku mencoba merasakan atmosfer dalam foto itu. Dari cahaya sinar matahari, sepertinya itu adalah sore hari, berada di sebuah kota pesisir, hembusan angin laut pastinya sudah tercium dari tempat subjek yang di foto itu. Sore hari mungkin pukul 14.00 dilihat dari arah sinar matahari, cahaya yang cukup hangat untuk melihat landscape kota pesisir, dari kejauhan namapk kebiruan samar laut dan gunung yang menjadikan kesan kontras dengan cahaya hangat agak kuning matahari. Jalanan yang cukup lengang, tepat pada titik tengah fokal adalah subjek orang yang sedang duduk mengamati dan sebuh pohon kecil yang menjadi penghalang jalan lurus menembak laut dan gunung kepada subjek. 

Entahlah, ketika melihat foto itu aku merasakan sesuatu hal yang bisa aku pahami namun tidak bisa aku ungkapkan melalui teks. Replikasi dengan sketsa bisa sedikit meraba atmosfer itu, namun dari percobaan ketiga ini jelas nampak bahwa aku hanya ingin mereplikasi dari foto itu, belum sampai pada interpretasi. 

Interpretasi dari pembacaanku tidak selalu harus berbeda atau identik sekalipun dengan tatapan kita, tapi bisa juga dengan menggunakan alternatif lain: metode, modal atau mungkin dengan gaya yang berbeda. Dalam hal ini setidaknya aku mencoba merasakan atmosfer foto itu dengan modal lain yakni sketsa, namun belum pada gaya (entah tepat atau tidak kata ini). 

Hal lain yang juga aku pahami dari belajar sketsa ini adalah sumber "tatapan" atau observasi itu tidak hanya berasal dari yang tangible, dari melihat pemandangan langsung atau foto, atau apapun. Tapi bisa bisa juga imajinasi kita sendiri, sesuatu yang ada dalam otak kita, tidak berwujud, intangible. Sketsa sama halnya dengan fotografi dalam hal ini yakni picturing something, entah itu benda konkret atau bisa juga atmosfer, perasaan, dll.

Sebagai penutup aku hanya ingin menyampaikan: 

Teruslah mencoba, kita tidak akan tahu percobaan itu akan membawa kita kemana. 

Kata Mbah Bob Ross: You have the power!


Begitulah yang sering dikatakan oleh Bob Ross. Pensiunan tentara US yang menjadi pengisi acara TV 80-an "The Joy of Painting" itu aku temukan secara tidak sengaja (well, mungkin sengaja kalau kata algoritma) di Youtube. Di kanal Youtube-nya, selalu menampilkan video dengan durasi yang tidak pendek, sekitar 30-menitan atau mungkin lebih, namun anehnya aku sangat jarang untuk skip ke menit selanjutnya. Baru belakangan aku pahami: aku menikmati. 

Hal yang tak terduga ternyata membuat sesuatu yang indah: dengan cara yang tepat, keberanian, dan kesadaran terhadap kuasa diri, serta daya imajinasi. Itulah yang aku pelajari setelah belasan jam melihat video-video di kanal Bob Ross. 

Acapkali ketika menulis atau membuat sketsa, otakku selalu sibuk memikirkan bentuk akhir tulisan atau sketsa. Melihat kertas kosong, atau kursor yang berkedip itu memberikan tekanan tersendiri bagiku: takut untuk memulai, takut untuk menodai kertas kosong itu dengan coretan yang tidak diharapkan, takut menulis kata yang tidak sesuai meski dalam word processor di komputer bisa dihapus lagi, tapi ujung-ujungnya adalah tidak menulis secara kontinyu melainkan aktivitas mengetik dan menekan delete/backspace. 

Saat ini aku mencoba melepas semua ketakutan itu. Aku memahami bahwa otakku lebih cepat berpikir daripada gerakan di tanganku, dan sebaliknya mulutku dalam berbagai situasi lebih cepat menyambar daripada kemampuan otakku berpikir. 

Bob Ross dan berbagai tokoh lainnya yang aku dengar, lihat dan baca itu, mempengaruhiku secara mendalam untuk tidak takut memulai. "Kamu punya pohon, gunung, dan berbagai hal indah di kuasmu, yang perlu kamu lakukan adalah just shake it" begitulah quotes lain favoritku dari Bob Ross. 

Persis mengikuti ucapannya itu, aku memulai membuat sketsa di foto di atas itu dengan satu garis coretan yang entah aku sendiri pun tak tahu akan menggambar apa. Anakku yang sedari tadi mengamatiku membawa buku sketsa dan pena jelli, terus mendesak tak sabar: "Ayah mau gambar apa sih? Cepat aku mau lihat". Lalu kujawab "Ayah juga nggak tahu mau gambar apa, kira-kira gambar apa enaknya?". 
Tentu jawaban dia tak jauh-jauh dari film kartun favoritnya belakangan ini: Robocar Poli, Superwing. Tayo, dll. Dan tentunya pula aku tak bisa mengakomodir hal itu. 

-----
Aku seorang perokok yang cukup berat, tapi selama hampir satu jam aku menggambar sketsa, aku lupa dengan candu sialan itu. Bahkan ketika istriku bertanya apakah aku ingin membeli rokok, aku menjawabnya: sebentar. Aku mulai menikmati canduku yang baru: hidup dalam imajinasi hasil goresan tangan, ternyata otakku sangat menikmati aktivitas yang tak memerlukan bagian sok-logis-nya itu. 

Goresan yang awalnya hanya garis horizontal yang haram dikatakan lurus itu, ternyata membuat lesung pipi dari wajah gunung. Tarikan dari bawah ke atas, ternyata membuat kelok sungai dan rawa. Berulang memutar pena, membuat kedalaman yang kubayangkan sebagai pepohonan. Tidak ada aturan, tidak ada pakem, yang ada hanyalah diriku dan imajinasiku, tanganku seolah tahu tentang hal itu dan tak perlu komando lagi dari otak: seperti sebuah refleks yang natural. 

Apakah ini yang dirasakan oleh pelukis dan seniman itu ketika membuat karya-karya mereka? Kalau memang iya, aku ingin bergabung dan merasakan candu bernama Joy of Painting itu! Alasannya jelas, aku tak mau lagi takut menatap kertas, kanvas kosong itu. Kalau kita sedang belajar, bukankah diri kita sebagai kertas atau kanvas itu sendiri? We definitely have the power! Kita bebas dan menggerakkan diri sendiri untuk kita gambar atau tulis atau simponikan itu sesuai imaji-envisioning kita. Tak perlu khawatir, tak perlu takut, biarkan saja hasil akhir itu menjadi rahasia, perlahan kita akan mengetahuinya seiring dengan proses goresan kuas, pena dan gerak jemari kita. 

"Painting serves nothing but Joy" - So was our life's journey! Jangan takut kawan, buatlah goresan itu, dan nikmatilah :)


Sing penting dijajal


Di umur-umur segini, aku mulai sadar bahwa kegiatan yang tak kita bayangkan sebelumnya malah bisa menjadi solusi atas kebosanan, mumet, anxious, opo meneh? coba sebutno! pokoke uakeh!!!

Kegiatan kecil itu ya seperti sinau nggambar, sinau instrumen musik, sinau foto, sinau apa wae. Intinya adalah hal atau kegiatan yang sebelumnya kita belum pernah coba atau pernah menocab namun sudah lama. Nah inti dari intinya lagi (kalau macam bahasa politikus itu: core of the core! uopoh!!!) adalah belajar. 

Ya, belajar adalah kebutuhan manusia (aku pernah baca atau dengar, tapi lupa siapa nama filsuf yang ngomong demikian). Pernah aku dengar di salah satu podcast seorang dokter, bahwa belajar hal baru entah apapun itu bentuknya dapat me-reroute jalur neuron di otak kita. Artinya, neuron otak menjelajahi ruang-ruang baru yang mungkin belum pernah terjamah sebelumnya. Entah studinya itu legit atau enggak, tapi yang penting menurutku adalah belajar hal baru dapat mengatasi berbagai perasaan gundah-gulana yang aku sebut di atas. 

Nah kalau aku sendiri, hal yang menarik itu pada awal ketika mau mencoba: tapi susah sepertinya, belum pernah nggambar, belum pernah main musik, dll.. 

Entah pertanyaan skeptis itu muncul sebagai defense system dari rasa malas atau bagaimana. Tapi rasa-rasanya kok skeptis gitu macam writer blocks  kalau pas mau nulis, bingung mau mulai dari mana, bingung mau milih kata apa. Padahal banyak penulis menyarankan: tulis saja dulu apa aja, ya tetap saja gak keluar itu kata-katanya. 

Dari sini sih kupikir, yang menghambat kita mau belajar itu sebenarnya bukan karena kondisi lingkungan, fasilitas atau hal eksternal, tapi ya sebenarnya diri kita sendiri. Motivasi, itu kata kuncinya. Selain itu juga perfeksionis- perlu dibuang ini, satu-satunya hal yang sempurna adalah ketidaksempurnaan itu sendiri. Soalnya begini, seringkali kalau mau mencoret pertama kali pas nggambar, atau milih huruf di keyboard untuk kata pertama menulis, kalau aku sendiri sering membayangkan bentuk finalnya yang bagus atau idealkan. Pikiran kaya gini kalau bagiku sangat sangat perlu kubuang, karena itu justru sangat akan menghambat progress. 

Nah lalu setelah itu mikir lagi, terus nanti kalau hasilnya jelek gimana? Ya tidak apa-apa, wong namanya kita juga belajar, bukan? yang perlu diingat adalah berdasarkan otak-atik-gathuk ku, kita di asia di Indonesia, di Jawa khususnya, hidup di iklim yang komeptitif sejak dini. Dari bangku sekolah kemampuan kita memahami literasi numerasi sudah dinilai, lanjut di lingkungan sosial juga karena kita sangat budaya ketimuran dimana kita sangat-sangat peduli satu sama lain sampai-sampai bentuk kepedulian itu malah jadi pagar makan tanaman. Gak percaya? lhah ucapan mulut tetangga itu lebih pedas dari cabai, itu buktinya. Kita secara kelembagaan, dan secara sosiokultural berada dalam ruang yang memiliki iklim sangat kompetitif secara multidimensi. Maka, ya gak apa -apa untuk mendekonstruksi pikiran seperti itu yang perlu diperhatikan: yang penting dicoba - sing penting dijajal! Tidak perlu mikir hasil dulu, hasil tidak akan menghianati usaha, berhasil atau tidaknya itu relatif. Hasil itu bukan satu-satunya hal yang akan membuat kita lebih baik, proses itu seringkali malah lebih berperan. 

Kedepan aku akan mencoba banyak hal baru yang sebelumnya aku gak pernah coba lakukan, semata-mata biar meluaskan pandanganku, biar gak melulu cupet - sempit. Pandangan sempit dalam hal apapun itu rawan, meski dalam kasus tertentu juag diperlukan, tapi perlu juga untuk kita seimbangkan. 

Ini kutulis di persinggahan, entah tertata atau tidaknya tulisan ini, ya gak masalah. Nanti kubaca lagi, kalau perlu aku perbaiki, kalau tidak diperbaiki pun juga tidak apa-apa, bisa jadi pengingat di masa depan. Pikiran yang diwujudkan itu ajaib bukan? Sing penting dijajal!