![]() |
| 04.08.2024 |
Belajar menggambar sketsa adalah pengalaman baru bagiku, dan setelah percobaan ketiga ini aku belajar lagi satu hal yakni ini soal interpretasi.
Sama dengan tulisan, foto atau video, sketsa juga memberi ruang untuk interpretasi kalau bukan memang itu tujuan utamanya. Pada percobaan ketiga ini, aku tertarik pada foto salah satu member dari grup facebook bernama 35mm Film Photography Club. Foto dari member tersebut bisa kalian lihat di sini.
Sedapat mungkin aku mencoba merasakan atmosfer dalam foto itu. Dari cahaya sinar matahari, sepertinya itu adalah sore hari, berada di sebuah kota pesisir, hembusan angin laut pastinya sudah tercium dari tempat subjek yang di foto itu. Sore hari mungkin pukul 14.00 dilihat dari arah sinar matahari, cahaya yang cukup hangat untuk melihat landscape kota pesisir, dari kejauhan namapk kebiruan samar laut dan gunung yang menjadikan kesan kontras dengan cahaya hangat agak kuning matahari. Jalanan yang cukup lengang, tepat pada titik tengah fokal adalah subjek orang yang sedang duduk mengamati dan sebuh pohon kecil yang menjadi penghalang jalan lurus menembak laut dan gunung kepada subjek.
Entahlah, ketika melihat foto itu aku merasakan sesuatu hal yang bisa aku pahami namun tidak bisa aku ungkapkan melalui teks. Replikasi dengan sketsa bisa sedikit meraba atmosfer itu, namun dari percobaan ketiga ini jelas nampak bahwa aku hanya ingin mereplikasi dari foto itu, belum sampai pada interpretasi.
Interpretasi dari pembacaanku tidak selalu harus berbeda atau identik sekalipun dengan tatapan kita, tapi bisa juga dengan menggunakan alternatif lain: metode, modal atau mungkin dengan gaya yang berbeda. Dalam hal ini setidaknya aku mencoba merasakan atmosfer foto itu dengan modal lain yakni sketsa, namun belum pada gaya (entah tepat atau tidak kata ini).
Hal lain yang juga aku pahami dari belajar sketsa ini adalah sumber "tatapan" atau observasi itu tidak hanya berasal dari yang tangible, dari melihat pemandangan langsung atau foto, atau apapun. Tapi bisa bisa juga imajinasi kita sendiri, sesuatu yang ada dalam otak kita, tidak berwujud, intangible. Sketsa sama halnya dengan fotografi dalam hal ini yakni picturing something, entah itu benda konkret atau bisa juga atmosfer, perasaan, dll.
Sebagai penutup aku hanya ingin menyampaikan:
Teruslah mencoba, kita tidak akan tahu percobaan itu akan membawa kita kemana.
