Belajar sketsa itu bikin kecanduan
Menuangkan imajinasi, observasi, dan rasa dari indra lainnya dalam bentuk sketsa memang menyenangkan. Bahkan cenderung membuat ketagihan, meski jari sudah pegal, dan entah berapa jam sudah "terbuang" untuk corat-coret, tetap saja aku lakukan itu. Apa sih yang membuat sketsa atau menggambar itu sebegitu candu?
Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada baiknya aku mengulas sedikit kenapa aku bisa masuk ke dalam bujuk rayu sketsa ini.
Baru-baru ini aku membuat facebook untuk bergabung ke grup dan komunitas untuk mencari informasi teknis untuk keperluan yang lain. Lalu mungkin alam bawah sadar membimbingku ke grup hobi, di mana aku mneyukai fotografi maka aku bergabung ke beberapa grup fotografi seperti fotografi ponsel Indonesia, 35mm Film Photography Club, Medium Format Photography, Mamiya Photos, Six Mega Pixel Club, dll. Dari sana mungkin algoritma Facebook mulai berjalan, terdapat beberapa saran grup seperti grup lukisan klasik, dan kemudian kujumpailah grup Sketch in travel, dan Urban Sketch Grup. Pada awalnya kulirik saja isi grup itu, lalu lama-kelamaan aku melihat bagaimana orang-orang membagikan sketsa mereka yang menarik, menggambarkan berbagai situasi dan tempat yang menurutku aneh: pojokan jalan, pohon-pohon yang semprawut, kabel-kabel dan perumahan padat, semua hal yang kukira hanya aku sendiri yang merasa terprovokasi akan hal itu, ternyata banyak orang menangkapnya sama denganku. Sebelumnya, aku merasa iritasi jika mataku melihat centang-prenang kabel-kabel di perkotaan, pedesaan, dimana saja.
Dulu aku sering mendokumentasikan hal itu, kala masa kuliah, jalan-jalan yang asri ditumbuhi pepohonan, bagus sekali untuk dipotret, tapi ada saja baliho partai, atau kabel listrik yang merintangi. Kala naik gunung: menuju gunung itu melewati pasar-pasar yang asyik suasananya, aku foto tapi ada saja kabel yang memotong gunungnya. Semua itu tidak terhindarkan, tpai lama-kelamaan aku jadi memiliki pemahaman lain, ya memang itulah wajah negara ini. Keindahan dari suasana keseharian masyarakatnya tercipta secara harmoni dan juga konflik, keduanya membuat atmosfer yang memorable. Lalu hadirlah segala baliho, kabel listrik, pipa air dan lainnya, menambah rumit, mata seperti eneg melihat berbagai detail itu. Tapi dalam keseharian, aku dan mungkin kalian yang membaca, diam-diam bersalaman: siapa juga yang melihat hal-hal itu.
Tak heran, kalau wisata seringnya orang kita mencari pemandangan yang sederhana: melihat pantai, gunung, bukit, bahkan sering tak sungkan membuat kesederhanaan dan keteraturan artifisial: masih ingat dengan booming taman bunga wisata?. Kita benar-benar ke taman itu hanya melihat bunga yang ditata sedemikian rapinya, berdasarkan jenis bunganya atau warnanya, dan ya itu saja. Tapi itu pun masih ada bonus ada "lope-lope"-nya. Somehow, kita gak bisa meninggalkan kerumitan macam "lope-lope" itu dalam kesederhanaan yang sudah kita bentuk bahkan secara artifisial.
Dulu aku sering mendokumentasikan hal itu, kala masa kuliah, jalan-jalan yang asri ditumbuhi pepohonan, bagus sekali untuk dipotret, tapi ada saja baliho partai, atau kabel listrik yang merintangi. Kala naik gunung: menuju gunung itu melewati pasar-pasar yang asyik suasananya, aku foto tapi ada saja kabel yang memotong gunungnya. Semua itu tidak terhindarkan, tpai lama-kelamaan aku jadi memiliki pemahaman lain, ya memang itulah wajah negara ini. Keindahan dari suasana keseharian masyarakatnya tercipta secara harmoni dan juga konflik, keduanya membuat atmosfer yang memorable. Lalu hadirlah segala baliho, kabel listrik, pipa air dan lainnya, menambah rumit, mata seperti eneg melihat berbagai detail itu. Tapi dalam keseharian, aku dan mungkin kalian yang membaca, diam-diam bersalaman: siapa juga yang melihat hal-hal itu.
Tak heran, kalau wisata seringnya orang kita mencari pemandangan yang sederhana: melihat pantai, gunung, bukit, bahkan sering tak sungkan membuat kesederhanaan dan keteraturan artifisial: masih ingat dengan booming taman bunga wisata?. Kita benar-benar ke taman itu hanya melihat bunga yang ditata sedemikian rapinya, berdasarkan jenis bunganya atau warnanya, dan ya itu saja. Tapi itu pun masih ada bonus ada "lope-lope"-nya. Somehow, kita gak bisa meninggalkan kerumitan macam "lope-lope" itu dalam kesederhanaan yang sudah kita bentuk bahkan secara artifisial.
Kembali ke sketsa, dari dua grup sketsa itu aku menemukan ternyata visual keseharian atau mungkin bisa juga disebut vernacular sights itu, ternyata menarik. Selama ini aku hanya memikirkan soal itu, dan sering kulimpahkan lewat foto, tapi foto adalah proses yang instan: memang kita melihat dan membuat framing sendiri, namun yang perlu kita lakukan hanyalah menekan telunjuk ke tombol rana. Sudah itu saja.
Aku mendapati beberapa pemahaman dari sketsa yang sangat berbeda dari praktik hobi fotografi. Dan dari itulah aku merasa tertarik. Nanti aku jelaskan apa saja yang kupahami itu, tapi sekarang aku ingin mengulas singkat perjalananku belajar sketsa.
Pada awalnya aku merasa sketsaku sangat konyol. Terlalu buru-buru, dan berharap segera jadi: karena jujur saja, membuat sketsa itu membuat pegal jari dan memerlukan waktu yang cukup lama. Sejauh ini, paling cepat aku membuat sketsa-sketsa itu adalah 10 menit, dan paling lama dua jam dalam rentang waktu dua hari.
Aku mendapati beberapa pemahaman dari sketsa yang sangat berbeda dari praktik hobi fotografi. Dan dari itulah aku merasa tertarik. Nanti aku jelaskan apa saja yang kupahami itu, tapi sekarang aku ingin mengulas singkat perjalananku belajar sketsa.
Pada awalnya aku merasa sketsaku sangat konyol. Terlalu buru-buru, dan berharap segera jadi: karena jujur saja, membuat sketsa itu membuat pegal jari dan memerlukan waktu yang cukup lama. Sejauh ini, paling cepat aku membuat sketsa-sketsa itu adalah 10 menit, dan paling lama dua jam dalam rentang waktu dua hari.
Setelah membuat beberapa kali dengan menekan egoku sendiri, aku geleng-geleng kepala dan terheran-heran: Aku sangat puas dengan sketsa yang kubuat sendiri! Sejak jaman SD mulai menggambar, baru kali ini secara sadar aku merasa puas dengan hasil gambarku sendiri.
Lalu berikutnya aku mulai tertantang dan mencoba menggambar dari berbagai referensi yang sangat menantang bagiku: sungai kumuh, gunung dan hutan, dll.
Baiklah kembali ke bahasan apa saja yang kupahami dari membuat sketsa. Simak berikut:
- Pengamatan sangatlah penting
- Memperhatikan detail
- Kontrol ego, sabar, dan telaten
- Membedakan apa yang benar-benar dilihat dan apa yang terlihat di dalam kepala
- Dekonstruksi ilusi untuk membuat ilusi
- Interpretasi dan kebebasan (tak peduli dimana, kapan, aku bisa jalan kemana saja, tiada yang melarang, tiada yang marah, cukup diriku dan pikiranku sendiri)
Sebenarnya masih banyak yang belum tereksplore olehku selama belajar sketsa ini, tapi sementara itu yang baru aku pelajari. Berikut aku jabarkan refleksiku itu:
Pengamatan sangat penting
Coba apa yang kira-kira pertama aku lakukan untuk buat sketsa? Bukan menyiapkan alat, kopi, rokok atau yang lainnya. Tapi aku mulai dengan berkhayal, membuat gambaran di kepalaku. Poin ini bagiku sangat penting untuk menentukan apa yang ingin aku gambar nanti. Dan hal ini berhubungan juga dengan poin pelajaran yang kudapat yakni interpretasi dan kebebasan.
Apa sih pengamatan itu? dan kenapa itu penting bagiku ketika belajar sketsa ini?
Sudah kusinggung sedikit sebelumnya, dalam keseharian seringkali kita hanya fokus pada apa yang menjadi tujuan kita. Misalnya, disuruh emak beli sayur ke pasar, maka yang terlihat di kepala kita itu mungkin hanya sesisir pisang, beberapa terong, seikat serai, jahe, kunyit, laos, dll. Atau mungkin terlihat bagaimana suasana pasar: dipenuhi emak-emak (tiada bapak-bapaknya, mungkin lagi pada ngerokok di rumah), jalan menuju pasar lewat mana yang paling cepat, dll.
Entah mataku yang sakit, atau memang pilihanku yang aneh, aku lebih tertarik pada pojokan jalan, bau ikan asin, atau makanan yang bakal dimasak emak dari sayur yang kubeli. Artinya, jika kita ingin membuat sketsa untuk tujuan menceritakan atau menuangkan apa yang terlihat di kepala, sebenarnya kita bebas memilih apa saja. "Beli sayur ke pasar" apa yang terlintas di benakmu? jangan dikira pojok jalan, bau ikan asin, kabel-kabel listrik itu tidak berhubungan, sebab itu yang mungkin kita cium dan lihat sepanjang perjalanan ke pasar. Tapi dalam keseharian kita seringkali abai dengan hal-hal yang tidak penting itu.
Coba berhenti sejenak dan perhatikan, ulir kabel itu gimana sih? kabel itu menghubungkan dari mana ke mana - kenapa ke ruko satu tapi tidak ke yang lain? dst. Pengamatan semacam itu, bagiku sangat menarik, dan membuatku sedikit merubah posisi dari menjalankan rutinitas menjadi yang melihat rutinitas. Dan poin ini penting, karena akan menuntun pada pelajaran yang lain seperti dekontruksi ilusi.
Mungkin kalian yang baca akan bertanya, tapi ini soal membuat sketsa kok malah sampai ke dekonstruksi atau apalah itu? tenang, nanti ada hubungannya.
Memperhatikan detail
Nyambung dari bahasan sebelumnya, ulir kabel itu bentuknya kaya gimana? lalu kalau itu cukup menarik bagi kalian, pertanyaan selanjutnya: gimana cara gambarnya? dst
Detail itu penting, entah mau gambar bebas atau yang hyperrealistic sekalipun. Garis, titik, sudut, bayangan, dll itu semua penting. Tapi sebelum terlalu jauh, disclaimer ya: aku nggak tahu sebenarnya teknis soal ini, ini hanya apa yang aku alami saja. Aku tidak ada background seni apapun.
Detail-detail itu akan membentuk gambaran secara keseluruhan, artinya hasil akhir itu akan ditentukan oleh bagaimana kita membuat detail itu.
Coba kalau ditarik ke kehidupan keseharian, kalau kerja umumnya pada minta hasil jadi, tidak mau ribet bahas detail kecil, tapi sesungguhnya itu kan menjadi pengalaman bekerja kita secara keseluruhan. Simpel aja contohnya, disuruh bos kumpulin laporan, tidak mau soft file, tapi hard file. Pas mau print ternyata antre dengan teman yang lain, eh pas giliran kita udah abis tinta atau kertasnya. Kita mesti cari dua hal itu, sementara sudah ditunggu. Yang terlintas di pikiran mungkin "gimana jelasinnya, gimana ini, dll". Atau contoh lain lebih mudah, bayangkan saja nama kalian salah huruf, kelebihan atau kekurangan huruf pas mau kumpulin data untuk pembuatan ijasah atau dokumen penting lainnya, fatal kan?. Kalau mau revisi pun, orang admin bakal mikir: makanya di cek dulu yang bener, "gambaran" yang ada dalam diri kita kemudian adalah: lalai, kurang cermat, terburu-buru.
Detail, mau dalam sketsa atau kehidupan sangat-sangatlah penting.
Tidak hanya soal membuat garis, titik, dsb., sampai pada bagaimana kita meraut pensil, memilih jenis bolpoin, cara menghapus, jenis kertas, semua detail itu sangat penting dan berpengaruh.
Kontrol ego, sabar dan telaten
Ini adalah hal tersulit. Mempertimbangkan poin sebelumnya, yakni detail, maka kesabaran kita diuji. Ego kita juga bisa menjadi-jadi karena kita lebih memilih menekankan pada garis tertentu dibandingkan titik atau arsir yang lain. Dan itu semua memerlukan ketelatenan.
Sederhana kan kalau ditulis? coba kalau diterapkan, bakal jadi cerita lain. Tapi semua itu bisa pelan-pelan dilatih, dan inilah salah satu hal yang baik kukira dari belajar sketsa. Masalahnya adalah kalau kita tidak bisa menyeimbangkan, macam apa yang kulakukan: lebih fokus pada sketsa dan lupa waktu.
Membedakan apa yang benar-benar dilihat dan apa yang terlihat di dalam kepala
Mata itu menipu. Kalimat itu sering kudengar kala belajar foto jaman dulu. Otak kita membuat hubungan garis-garis imajiner dan membentuknya secara identik dengan apa yang pernah kita lihat, atau mungkin juga warisan hewaniah kita, sebagai sistem pertahanan. Katakanlah kalau melihat dua titik merah berdekatan diantara pohon di malam hari, kita mungkin merinding karena mengira itu hantu (namun alam bawah sadar bisa jadi itu warisan moyang kita yang waspada bahwa itu hewan buas, bisa jadi), padahal kalau kita lihat dengan seksama, mungkin itu warna merah dari lampu tower sinyal yang entah gimana ceritanya bisa nembus ke semak dan pepohonan.
Itu pula yang coba kuterka, paling sulit bagiku adalah menggambar mata dan tangan. Aku selalu melihatnya secara keseluruhan mata itu bentuknya seperti itu, tangan juga seperti itu. Padahal yang bicara adalah apa yang nampak di otakku, bukan yang benar-benar aku lihat.
Dalam sketsa aku melihat mata, tangan dan semua hal, intinya adalah garis dengan sudut dan tonal tertentu. Pun berhasil melihatnya seperti itu bukan jaminan kita bisa menggambarnya, sebab itu dua hal yang berbeda.
Dalam sketsa aku melihat mata, tangan dan semua hal, intinya adalah garis dengan sudut dan tonal tertentu. Pun berhasil melihatnya seperti itu bukan jaminan kita bisa menggambarnya, sebab itu dua hal yang berbeda.
Dekonstruksi ilusi untuk membuat ilusi
Coba ditimang, dipikir penjelasan sebelumnya. Semua benda atau hal dalam sketsa itu cuman garis dsb, tapi kenapa ketika kita lihat hasilnya seolah nyata. Ya, sebab otak kita memang hebat, mampu membuat tafsir identik dan memunculkannya dalam kepala meski barangnya tidak ada. Gak percaya? bayangin aja kecutnya mangga muda, pasti kebayang rujak, atau hijaunya mangga muda, dst.
Tapi disinilah kita membredel semua itu, mendekonstruksi. Mata bukan sebagai mata, orang bukan sebagai orang, pohon bukan sebagai pohon, tapi kumpulan garis yang saling terhubung dengan tonal yang unik dan beragam.
Lalu setelah kita berhasil membredel itu, bukankah yang kita coba goreskan, segala corat-coret, hapus, arsir itu adalah proses membuat ilusi baru yang nantinya dihubungkan kembali oleh otak kita masing-masing.
Recursive, dan aneh. Menelanjangi untuk kemudian memakaikan pakaian. Mungkinkah ini yang dimaksud tiada yang benar-benar baru? Entahlah.
Interpretasi dan Kebebasan
Kita sudah mengamati, memperhatikan detail, melatih ego, dsb. Lalu sampailah pada kita memaknai, apa yang kita lakukan ketika membuat sketsa tak lain adalah proses mengimbuhkan makna. Kita terinspirasi dari berbagai sumber untuk ide awal, lalu kita memberikan sentuhan kita sendiri agar sesuai dengan yang terbayang di kepala.
Disinilah letak kebebasan itu, dan hal ini kukira yang membuat sketsa itu layaknya candu. Aku kecanduan kebebasan untuk menuangkan apapun itu, tiada yang melarang, tiada yang marah, hanya diriku sendiri dan pikiranku.
Dan proses itu akan terus berkembang, sampai ketika hasil akhir dilihat orang lain. Atau bahkan ketika kita lihat sendiri, segala rahasia salah membuat garis, salah mengarsir, kita akan ketahui sendiri. Bisa diperbaiki, atau bisa dibiarkan. Disitulah kupikir letak bebas tafsirnya.
Lalu, kenapa dibuang?
Sudah cukup aku belajar sketsa untuk saat ini, tak tahu untuk kedepannya. Karena satu hal, aku belum bisa menjaga keseimbangan. Belajar membuat sketsa itu tiada nilainya sama seperti melakukan hal apapun, namun kita yang memberikan nilai kepada aktifitas itu, entah baik-buruk, sedang-jelek-bagus, dsb. Kalau aku bisa kebablasan dan asik dengan duniaku sendiri dalam sketsa, artinya aku kurang adil dan seimbang. Dan itu berlawanan dengan pelajaran yang kuperoleh yakni untuk melatih rasa sabar dan telaten.
| Total 27 Sketsa yang aku buat selama dua minggu terakhir. |
Apapun itu jika terlalu berlebihan kemungkinan besar tidak akan berujung baik. Keselarasan itu hal yang nyaris mustahil, tapi setidaknya bisa didekati dan diusahakan.