Institusionalisasi


Pada masa kecil sampai remaja kukira kita semua akan hidup cukup lama di dunia ini. Pada usia dua puluh tahunan sampai tiga puluhan perlahan kesadaran akan bertambahnya usia tumbuh dalam pikiran, dan aku tak tahu akan berbuah atau berbunga seperti apa pada umur ketiga keempat atau kelima dekade setelah kelahiran. Pemikiran orang kukira memang berubah setiap bertambahnya tahun, selaras dengan apa yang dilalui, atau dilakukan orang itu sendiri. Tapi, aku memliki satu teori yang mungkin itu berlaku untuk semua dekade rentang hidup manusia : kita, manusia berhutang pada hidup itu sendiri. 

Mungkin waktu, mungkin juga materi, bisa jadi orang, atau apapun sepanjang dekade yang dijalani, adalah hutang pada setiap nafas pembakaran. 

Sebenarnya sudah berapa ratus atau mungkin ribuan pemikir yang mencoba berteori akan hal ini. Entah berapa ribu tahun pemikiran macam ini bergelayut temurun pada manusia. Ada yang mendekripsikan pembayaran hutang itu dengan mencari tujuan berkehidupan, ada yang sibuk mencari jalan, ada pula yang sekedar paham pada sifat hidup yakni keberhutangan dan pembayarannya, ada yang oportunis dan sekedar menikmati hutang - karena, setiap hutang punya kenikmatannya sendiri bukan ?. 

Aku sendiri berpikir, hidup punya caranya sendiri untuk memeroleh apa yang sudah dihutangkan pada manusia. Dan manusia pun, diberikan kebebasan untuk memilih berbagai jalan, cara, untuk melunasinya pada hidup. 


Apakah yang manusia pinjam dari kehidupan?

Kematian. 

Pada awalnya kukira hidup berlawanan dengan kematian. Sebaliknya, mereka adalah kawan karib yang sedang bermain dakon dengan hidup manusia sebagai gundunya. Tiap lubang dan hitungan langkah itu, tiada yang tahu, Hanya hidup dan mati itu sendiri yang pasti. Pada lubung-lumbung itu kita hidup dan mati, hidup dalam kematian, dan mati dalam kehidupan. 


Tak heran, pemikir yang lebih lihai melihat itu, mungkin juga sedikit gila, memunculkan pemikiran yang banyak digemari oleh banyak orang. Bahwa hidup dalam kematian itulah yang abadi. Sebaliknya, pihak seberang berpikir bahwa kehidupan adalah kehidupan yang nyata. Mungkin kau sering mendengar “beribadahlah seolah esok kau akan mati, dan bekerjalah seolah kau hidup selamanya”. Kupikir yang menciptakan itu sedang mendamaikan kedua belah kubu sebelumnya. 

Sekejap aku hanyut dalam pemikiranku sendiri. Kesadaranku menyeruak kala asap rokok di asbakku sudah berbau semacam plastik, filter yang terbakar. Kuteguk kopi yang sudah dingin di sebelahku, lalu aku perhatikan televisi di depanku masih menayangkan film yang sebenarnya sudah kulihat berkali-kali, “Shawsank Redemption”. 

Entah pada menit dan berapa iklan yang sudah ditayangkan semenjak pemutaran film itu. Mataku sampai pada adegan di mana Brooks, seorang narapidana yang sudha dipenjara di Shawsank sejak 1905 itu mencoba membunuh rekannya sendiri. Beberapa rekan narapidana yang lain melihat lantas mencoba melerai, termasuk tokoh utama : Dusfrene. Apa yang membuat tokoh utama dan beberapa figura itu tercengang adalah alasan Brooks berkelakuan demikian, dia mencoba membunuh rekan karena ucapan selamatnya atas disetujuinya pembebasan bersyarat Brooks. Dia tidak ingin meninggalkan penjara Shawsank. 

Salah seorang rekan Brooks yakni Red, berkata pada Dusfrene dan rekan lainnya bahwa Brooks sudah terinstitusionalisasi dengan Shawsank, Brooks menjadi bagian Shawsank. 

Aku kembali melihat naskah ini, film itu memberikanku sebuah analogi yang sempurna. 
Institusionalisasi. 

Penjara, mengambil hidup para narapidana itu. Entah dosa apa saja yang mereka perbuat, yang jelas hidup mereka harus berserah dan menjadi bagian dari penjara itu sendiri. 

Berhentilah bernafas sejenak, dengarkan keriuhan di jalanan itu, berjuta orang hilir-mudik punya urusan dan tujuan masing-masing. Di kotak ruang bersusun tinggi berlomba menusuk langit, juga berjuta orang di sana hidup bersama urusan dan tujuannya. 

Angkat tanganmu dan rajutlah udara sebisamu, jahitlah benang-benang itu dalam setiap tetes darahmu, lalu renungkan hal ini : benarkah ada perbedaan penjara di dalam sana dan hidup di luar ini ?


Lelap, kopi dingin itu tak mampu menahanku terjaga. Aku tidur dalam kesadaran, lelap dalam keterasingan. Apakah ini mimpi dalam kenyataan ? Atau, kenyataan dalam mimpiku ? 

….

Lamat bersarang pada usuk bambu berdampingan dengan gendeng berwarna merah gelap, mataku masih berdiam disekitarannya. Pagi di musim kemarau tak ada bosannya mengusik lelapku tepat pada tiga pagi. Masih dalam sisa-sisa hangat tubuh dibalik kain sarung yang aku pakai, kuperhatikan angin menelisik masuk. Mereka menari, liuknya cukup untuk membangunkan bulu-bulu di kaki, pun membuat telapaknya sedingin es. Dalam kondisi begini, aku hanya punya dua pilihan, berserah pada sarung melawan liukan angin kemarau pagi ini, atau gegas menuju sumur belakang rumah mengambil wudhu sekedar menjalankan wajib Isya’  yang selalu kutunda atau tak tunai sekalipun. 

Kerubut bersama sarung meski tak menghangatkan, kiranya cukup menghalang sedikit siksaan angin kemarau pagi ini. Ke belakang lantas ambil air dari sumur ? Membayangkan pakai terompah  saja sudah beku telapak ku. Tapi, kupikir-pikir bukannya begitu godaan dari makhluk penggoda itu ? Hal yang nampak nyaman dipikiran dalam situasi semacam, berada di pihak setan. Sebaliknya, bersakit dingin merasakan langsung cumbuan angin kemarau pagi-pagi, itu adalah keberhasilan. 

Masih disekitaran lamat, laba-laba berkaki panjang itu bergoyang pelannya, mungkin juga kedinginan ditiup angin. Pelan dia bergerak menuju sudut sarangnya, bergeming dibalik lindungan usuk bambu. Pikirnya dia bisa selamat dari dingin. Di luar sana, ayam berkokok saling sapa sama kawannya. 

Gara-gara kokok ayam, terlintas sekilas dipikiranku, si Amir bocah yang baru lulus sekolah atas beberapa minggu yang lalu itu berceramah padaku : “Jangan kalah sama ayam, pagi-pagi mereka  udah cari rejeki. Kalau kita bangun siang, nanti rejekinya dipatok ayam”. Pipiku yang yang belum beku gerak sedikit, lucu kubayangkan bagaimana bisa si Amir berkata seperti itu. Perlu diperhatikan wajah si Amir saat berkata itu, tulang pipinya kotak tegas, bibirnya konsisten dengan maksud ucapannya, yang kurang lebih artinya dia serius. Senang pula sebenarnya melihat anak muda (pikiranku terhenti, mengingat serasa baru kemarin aku dipanggil orang dengan sebutan itu - anak muda) punya motivsi untuk bekerja. Kudengar minggu depan dia sudah ke ibukota menjadi buruh di industri otomotif. Selamat, ucapku. 

Kulihat di sampingku, anyaman gedhek mungkin kurang rapat bisa juga bambunya masih terlalu muda saat dibikin, membuat angin makin menjadi saling telusur di atas sarung, juga di muka. Tulang pipiku dibikin ngilu karenanya.

Aku terjaga dari lelapku. Namun aku tak yakin apakah ini mimpi, atau bukan. Sebab, aku tak mengenal Amir, dan seingatku sekarang adalah musim hujan. 



….

Hit the street (again !)

Beberapa saat sempat bosan dengan streetphotography alasannya ndak mutu : karena sudah terlalu banyak bertebaran foto SP di luar sana. Tapi sebenarnya aku merasa senang sih, jadi akhirnya kuputuskan untuk turun lagi ke jalan, cuman sekarang ndak  tau apakah masih SP atau bukan, yang jelas senang-senang saja turun ke jalan sambil motret.  
Kalau-kalau ya ada yang ngomong ini - itu foto nyetrit  sekarang aku cuman respon : ra urus bro ! sing penting koe seneng !Foto-foto yang kubuat bagiku kok  lebih berasa kalau dibilang sebagai catatan perjalanan secara visual tentu saja, fungsinya sih  kalau menurutku sebagai pengingat saja : oh dahulu aku pernah ke sana, jadi bisa memanggil kembali kejadian apa pas waktu itu, juga apa yang aku pikirkan waktu itu, lha ini kan sangat private kan berkebalikan dengan yang katanya SP ?Sing penting koe seneng bro ! 














Nah kalau foto-foto dalam set ini aku ambil mulai dari Jogja waktu menjemput kekasihku, sampai ke Tulungagung waktu aku tes pekerjaan. Semuanya kubuat dengan kamera kesayanganku Fujiflm X100S.

Kopi Ijo Bolorejo Tulungagung


Kalau ke Tulungagung jangan terlewat untuk ngopi di Bolorejo, Kecamatan Kauman. Di sana ada warung kopi yang menawarkan koi khas Tulungagung, kopi ijo. 
Bukan warnanya ijo setelah dibuat, tapi karena campuran dari kopi dan kacang ijo yang ditumbuk. Kenapa kacang ijo aku belum tahu alasannya, tapi yang jelas banyak yang minat dengan kopi ini. Warung kopi Mbak Tin yang aku kunjungi misalnya, dari depan jalan Bolorejo ini terlihat puluhan motor parkir. Itu pun di bulan puasa entah kalau bulan biasa. 
Warung kopinya sederhana, tidak ada dekorasi atau tulisan ala-ala anak muda di kafe kekinian, hanya kursi dan bangku meja panjang dengan gorengan dan nasi bungkus. 
Begitu masuk warung kopi itu, suasana yang aku dapati sangat ramah. Aku merasa masuk dalam keluarga, keluarga sesama penyuka kopi. Mereka hanya menyajikan satu cara penyajian kopi yakni dengan di tubruk, puluhan gelas berisi kopi bubuk ijo dan gula sudah di tata sedemikian rupa kalau ada yang memesan kopi tinggal dituangi air panas lalu disajikan, sudah begitu saja. Kopinya pun tidak diantar tapi diambil sendiri oleh pembeli. 
Pulang dari sana aku tak lupa memesan 1kg kopi ijo bubuk seharga 65rb/kg untuk oleh-oleh. 








Bahagia itu sederhana

 Lima jam lebih perjalanan menggunakan motor tentu saja aku merasa bosan. Tak hanya itu, siang hari di jalanan yang ramai lengkap dengan terik panas dan emosi marah para pengendara karena macet di lampu merah, persimpangan atau di dekat papan bertuliskan “pelebaran jalan” itu membuatku turut naik darah. Pengendara motor selap-selip, sementara di jalur tengah atau jalur kiri banyak roda empat yang hanya di duduki satu-dua orang itu seperti hilang sabarnya, teett-tooott suara-suara klakson roda empat itu bak daging kambing muda bagi penderita darah tinggi.
Sementara dari headphoneku masih terdengar lagu Nine Inch Nails – The Hands That Feed jelas membuatku semakin marah pula berpikir di bawah terik di atas karpet hitam ini. Apa yang sebenarnya para orang – pengendara ini? Plat nomor beragam itu baik dari barat, timur atau dari kota yang sedang kulewati ini, pastinya mereka punya tujuan dan urusan masing-masing. Bisa saja mereka bekerja, liburan, atau sekedar mengunjungi keluarga meski demi menuju tujuan itu perlu bahan bakar macet dibumbui marah pula di jalanan.
Baik yang bekerja di kantoran, yang kerja di bangunan, yang jualan dipinggir jalan, yang melamun dibawah pohon durian, pasti toh mereka semua punya tujuan yang sama : bahagia. Sebenarnya lalu lalang ini, perjalanan ini, toh berujung pada muara yang bernama bahagia pula. Tapi di mana sebenarnya si bahagia itu bisa ditemui ?
Lima jam kemudian aku sampai di rumah kekasihku. Depan rumahnya memang hamparan sawah, di antara sawah itu terdapat lapangan yang kini sedang rami untuk dijadikan pasar malam. Tepat di samping pasar malam itulah, sawah yang kering karena kemarau itu jadi arena bermain anak maupun yang sudah dewasa. Melihat mereka bermain seperti tak ada beban, selidik aku berjalan ikut mereka. Layang-layang itulah kiranya kendaraan yang mengantarkan mereka kepada kebahagian, bukan roda dua ataupun empat.
Ada pula yang bermain merpati, berlari di pematang menuju ujung paling jauh, lalu dilepaskannya merpati yang memang gandrung dengan pasangannya di seberang. Dan wusss terbanglah dengan segera burung-burung itu. Lagi-lagi merpati itu kendaraan yang menerbangkan kebahagiaan. Melihatnya saja orang sudah bahagia apalagi bermain bersama burung-burung itu. 
Hal yang membuatku mikir sebenarnya dibalik itu semua ada kunci yang menjelaskan mengapa yang namanya perjalanan  tak akan berujung pada muara yang tepat di dunia saat ini. Di bawah kungkungan iming-iming sejuta barang yang menjanjikan kebahagiaan di berbagai media, tak lain itu semua semu, pseudo. Pernah kan pasti melihat iklan mobil keluarga ? semuanya tergambar ceria baik si bapak ibu dan anak kala naik mobil ? Tapi pernah kan melihat pengendara bermuka pucat, berkelakuan seenaknya kala di jalanan ? Pernah kan melihat iklan rokok menggambarkan anak muda, yang laki-laki apalagi, terlihat sangat maskulin, seolah-olah paling menang di dunia ? Ada juga yang mencoba provokasi lewat iklan rokok seolah berlaku cerdas tapi sebenarnya sama saja pseudo : nanti lo juga paham ? Tapi kalau semua pada akhirnya sudah merokok berujung sakit, nah.
Dunia yang konsumeris, membuat orang tak hanya menjadi komoditas itu sendiri, namun menjual bahagia atas nama nilai-nilai semua yang disematkan di setiap barang yang dimiliki.
Tapi kawan, bahagia tak harus dengan seperti itu, banyak kendaraan di luar sana yang bisa mengantarkanmu berlabuh menuju muara bahagia, merpati dan layang-layang misalnya, sangat sederhana dan murah, dan yang paling penting itulah esensi hidup yang paling hakiki.
Salam !