Bahan pengawet, perasa dan penarik penampilan makanan ringan.

Pernah mendengar kasus-kasus makan tidak sehat di Indonesia ?. Saya beri contoh saja, beberapa tahun lalu fenomena bakso boraks atau formalin mencuat ke publik, oplosan minyak jelantah dengan oli, bakso dengan daging tikus, pewarna makanan yang berasal dari pewarna tekstil, dan  pemanis gula rafinasi yang dikonsumsi secara langsung. Pada intinya, berbagai fenomena itu muncul untuk mengikuti nalar ekonomis, mengingat hal itu ada dalam suatu sirkulasi perdagangan. Bagaimana tidak, poin utama dilibatkannya bahan-bahan tak layak konsumsi itu sebenarnya adalah nalar eksistensial bagi komoditas perdagangan terutama untuk konsumsi sehari-hari : pengawet, perasa, penampilan.

Keresahan ini sebenarnya muncul dari saya sendiri, saya memiliki adik yang masih kecil dia masih di tingkat sekolah dasar. Sehari-hari adik saya diberi uang saku sebelum berangkat ke sekolah, sebagian besar (kalu tidak semua) uang sakunya dibelanjakan untuk makanan ringan entah itu snack ringan yang diproduksi oleh industri makanan, penjaja makanan kaki lima, atau asongan. Masa kecil saya pun sebenarnya sama saja dengan adik saya itu. Di mata saya pada saat kecil makanan yang menarik adalah makanan yang berwarna-warni, rasanya membuat lidah ingin merasa berkali-kali, dan tentu saja harganya murah. Mungkin itu juga yang dirasakan adik saya sehingga dia sulit untuk tidak jajan. 
Dengan mendengar bunyi "tulit-tulit" dari penjual makanan itu (cilok, bakso tusuk, es krim, sosis goreng) adik saya langsung lari keluar rumah dan memanggil si penjual, kalaupun dia tidak punya uang dia akan meminta pada saya, dan jika tidak diberi seringkali dia menangis. Ya, yang saya khawatirkan bukan uang karena harga makanan cukup murah antara 500-1000 rupiah, namun lebih pada kesehatan. Lama-kelamaan saya perhatikan masa kecil saya atau adik saya adalah kecanduan pada makanan seperti itu. 

Saya mencoba merasionalkan pengalaman ini. Pertanyaan yang mengganggu benak saya adalah : kenapa di lingkungan saya sendiri khususnya, atau pada lingkungan lainnya umumnya di Indonesia, muncul fenomena semacam ini, apa yang sebenarnya dipikirkan oleh penjual dengan mencampur berbagai bahan berbahaya pada komoditas pangan.

Para pedagang makanan ringan terjebak dalam sistem pasar yang saling mengikat pada setiap mekanismenya. Untuk memeroleh keuntung tinggi ada beberapa cara seperti menaikkan kualitas yang diikuti dengan naiknya harga komoditas atau memperbanyak jumlah komoditas. Secara sederhana, pemikiran itulah yang paling mudah untuk dilakukan dalam memeroleh keuntungan. Namun ada juga cara lain yang beresiko yakni mengurangi kualitas komoditas namun tetap dengan harga yang sama : apalagi kalau bukan mencampurnya dengan bahan-bahan pengganti atau campuran. Sayangnya kadang bahan-bahan itu berbahaya. 
Komoditas yang awet juga hal penting untuk menjaga keuntungan. Cilok atau bakso misalnya, daya tahannya pendek, satu hari saja kalau tidak diwaetkan bisa busuk. Bahan-bahan pengawet berperan penting dalam hal ini, selain jumlah produksi bisa ditingkatkan, kerugian atas tidak lakunya dagangan pada waktu yang lalu bisa diatasi. 
Terakhir adalah penampilan, ini menyangkut siapa konsumennya. Makanan ringan seringkali memiliki pasar yang jelas seperti anak sekolahan. Penamiplan yang menarik setidaknya bagai anak-anak tentu saja akan mempercepat lakunya dagangan. Warna jajanan yang mencolok mengundang perhatian anak-anak untuk membelinya, mungkin hal ini karena anak-anak memiliki  rasa ingin tahu yang besar. 


Anak-anak sekolah jajan cilok (foto : ichsan rahmanto).

Lantas, ini semua apakah kesalahan dari si penjual ? atau konsumen yang kurang hati-hati ?. Lebih jauh, saya berpikir bukan keduanya, namun sistem. Sistem yang memungkinkan kondisi seperti ini muncul. Jika menilik pada para penjual kebanyakan adalah mereka yang tidak punya akses untuk pekerjaan lain, atau karena cara ini - mekanisme jualan yang seperti ini yang memungkinkan mereka memeroleh keuntungan yang cukup besar dengan modal yang relatif minim. 

------------------

Tahun 2013 tepatnya bulan April, saya berkesempatan menjadi asisten riset seorang mahasiswa post-doktoral di Kalimantan tengah. Waktu itu siang hari, saya sedang beristirahat kemudian saya mendengar suara "tulit-tulit" , saya kemudian iseng-iseng keluar rumah dan memanggil penjual itu. Saya membeli cilok yang dalam keseharian di sana disebut pentol . Ketika penjual itu datang saya tanya : "berapa bang harganya ?" dia menjawab " satu seribu, mas". Menggunakan kata "mas" saya pikir penjual ini dari Jawa, kemudian saya tanya dia " aslinya mana bang ", dia menjawab "aku soko Ngawi mas".  Saya senang, juga heran. Senang karena ketemu juga orang Jawa di tanah seberang (yah, mungkin ini sesuai yang disebut Durkheim kalau tidak salah sebagai kesadaran mekanis?), heran karena saya jadi bertanya-tanya : ngapain jauh-jauh kesini jualan pentol ? saya berpikir mungkin bekerja seperti ini punya untung besar. Memang saya tidak bertanya lebih jauh pada penjual itu karena dia juga harus buru-buru melayani pembeli yang sudah memanggilnya dari arah hulu kampung. Hal penting yang bisa aku pelajari adalah bekerja sebagai penjual makanan ringan memang memiliki pasar yang cukup menguntungkan, target konsumen yang jelas, dan tidak memerlukan keahlian khusus. Selanjutnya adalah mungkin kita harus lebih berhati-hati untuk jajan makanan ringan, karena ini menyangkut kesehatan.