Saya tak punya uang waktu itu, saya terpaksa meminjam ayah saya beberapa uang. Kemudian dia transfer dan saya bergegas pulang, menuju rumah duka simbah di Boyolali. Setelah satu stengah jam perjalanan dari Yogya, pukul 21.39 saya sampai di rumah duka.
Suasana di rumah duka tidak seperti yang saya bayangkan ketika selama perjalanan naik motor Yogya - Boyolali. Saya membayangkan banyak orang di sana menangis terisak. Namun di sana justru banyak tamu laki-laki di halaman rumah dan di dalam rumah, sementara bagian belakang dan dapur dipenuhi wanita, dan anak-anak. Jenazah simbah berada di ujung barat rumah di ruang tamu, di sebelahnya ada kamar tempat di mana simbah kakung berdiam selama satu malam tanpa makan, tanpa tidur, hanya merokok dan minum teh hangat. Para tamu laki-laki dan beberapa wanita teman simbah putri yang sudah lansia juga berada di ruang tamu bersebelahan dengan jenazah simbah putri. Ada suasana yang sangat ekstrem di sana, saya bisa merasakan hal itu. Jenazah simbah putri terbaring di atas meja sendirian hanya ditemani lilin dan dia dipisahkan dengan geber atau kain. Dia terbaring sendiri terpisah dari para tamu, atau simbah kakung, suaminya meski mereka semua berdekatan dalam satu ruangan atau bersebelahan.
Para tamu di depan rumah dan di dalam rumah berangsur pulang sekitar pukul 00.00. Hanya belasan orang di dalam ruang tamu, sementara di depan rumah sudah tak ada. Spontan mereka membentuk kelompok - kelompok terdiri dari 4-5 orang bermain kartu bridge. Permainan itu hadir untuk membuat mereka terjaga selama mereka menjaga jenazah sampai pagi hari. Entah mereka sadar atau tidak, namun dari pemahaman saya, ada dunia-dunia yang terpisah dalam satu ruang itu. Dunia tempat jenazah simbah saya terbaring, dunia tempat para tamu bermain bridge, dan itu dipisahkan oleh kain geber . Saya ingin mengasah otak saya untuk memahami hal itu, namun saya terlalu lelah untuk mencari apa yang diajarkan di kampus : deep structure nya, atau thick description nya.
Satu hal yang bisa saya pahami, bahwa eksistensi di sini tergantung pada ruang - ruang yang sudah terkonstruksi, oleh apa yang disebut sebagai dua hal di atas, Bahwa apakah konsep-konsep itu dapat mewakili semua hal dalam ruang-ruang dan eksistensi setiap materinya, realitasnya itu adalah urusan lain. Kesedihan misalnya, tidak hadir dalam bentuk mimik muka, suara isakan tangis, namun bagi para tamu, saya sendiri, dan simbah kakung, hadir sebagai bentuk cerita kenangan.
Saat itu pukul 02.45 ketika tamu-tamu yang bermain bridge sudah pulang dan hanya tersisa teman simbah putri yang sudah lansia, anak-anak mbah putri, saya sebagai cucunya, menantu dan mbah kakung mulai bercerita mengenang mbah putri ketika masih sugeng. Tidak peduli apakah cerita itu tentang keburukan atau kebaikan mbah putri, lebih luas tidak peduli apapun yang diceritakan, semua itu dimaknai para pendengar dan pencerita sebagai suatu hal yang membuat sedih.
Hal yang sangat berharga dalam hal ini, ketika orang sudah mulai tertata pada konteksnya masing-masing, pada dunianya masing-masing, dan semua itu terpisah satu sama lain. jalur penghubungnya hanyalah secara simbolik saja : lilin itu harus dijaga tetap hidup sampai pagi hari; kopi, beras, rokok, harus ada menemani si jenazah dan si tamu sampai pagi hari; tidur hanya untuk beberapa orang saja tapi tetap harus ada yang terjaga ; kain geber harus tetap digelar sampai ketika jenazah di sucikan - dimandikan.
Sesudah dikebumikan, sanak kerabat, anak, cucu buyut, yang berada di rumah duka menjalankan aktivitas lainnya, seolah-olah tidak ada kejadian apapun. Semua orang kecuali mbah kakung saya kira sudah fokus pada prosesi ritus formal dalam budaya Jawa : Slametan. Bahwa slametan ini bersifat ambivalen : antara bersyukur dan berduka, toh itu tetap dilangsungkan demi kebaikan bersama, lagi-lagi ambivalen, kebaikan untuk si hidup dan si mati.
Saya lelah untuk menerangkan secara runtut, namun saya masih ingat dengan jelas. Bau kapur barus, bau kain kafan, bau rokok yang mengepul di ruang tamu, itu semua terekam dengan rapi. Ingatan ini mungkin menjadi bagian dari mengenang sebagai rasa empati untuk wafatnya seorang simbah. Sekarang simbah masih dikebumikan dengan penanda papan kayu sementara, nanti mungkin ketika simbah sudah permanen hidup di alam seberang ketika kijing dari batu dan semen dibuat di atas tubuhnya dimakamkan, ingatan - ingatan ini mungkin akan sirna sebagai wujud ikhlasnya dia hidup di alam yang lain. sugeng tindak mbah !
