
Semalam, kulihat seekor kumbang ukurannya cukup besar, sebesar jempol kaki. Terbang dia ke atas, menyasar lampu, seringkali bunyi "ting...ting" kala badannya yang keras itu menabrak kaca lampu.
Entah memang apa yang dipikirkannya.
Tapi lampu berwarna putih itu memang menarik dibandingkan gelapnya kebun dan pekarangan.
"Glup...glup...glup...glup", kepakan kalong mengalihkanku. Kucari di mana makhluk yang bisa-bisa tiada menabrak dedaunan, dinding, atau pohon dalam gelap sekalipun itu. Dan entah kemana hewan saudaranya codot pemakan buah itu.
Sejanak tak kuperhatikan, si kumbang sudah tengkurap di lantai.
"Klutik...tik...tik..." suara kaki kecilnya itu menghantam keramik sejadi-jadinya. Berputar dia mencari sesuatu, apapun itu untuk dipegang agar bisa membalikkan badan. Namun sayang, tiada apapun di sekitarnya. Hanya sandal tapi cukup jauh sekitar satu setengah meter.
Ku dekati, masih pula berputar dia. Kupikir-pikir, gerakannya menarik, tiga kaki (atau tangan?) kanannya bergerak keluar, sementara yang kiri bergerak masuk ke badan. Tapi itu juga tiada pasti, kadang juga sejadi-jadinya sama-sama keluar atau juga sebaliknya.
Mungkin, si kumbang itu sudah habis pikir, kalau bukan memang tak bisa berpikir. Gerak sebisanya, putar, gunakan kaki atau tangan paling bawah untuk mendongkrak tubuhnya.
Sia-sia, tubuhnya terlalu besar, atau mungkin karena bentuknya melengkung, membuatnya kesulitan untuk sekedar membalikkan badannya sendiri.
Kuambil ponselku aku akan mengambil foto si kumbang yang kepayahan itu. Sebab, kenapa tidak? kupikir-pikir seumur hidupku baru sekarang aku mengambil foto kumbang yang tersungkur.
Sudah dapat fotonya, lalu kuberi dia sandal. Dengan cepat kaki-kakinya memegang erat sandal plastik. Kupegang si kumbang, tubuhnya berdesis, seolah menantangku, menganggapku sebagai ancaman yang bakal memisahkan dirinya dengan si sandal penyelamatnya.
Kala kuangkat kumbang itu, cengkeramannya sangat kuat. Seakan sandal adalah kekasih yang tahunan tiada dijumpa, erat peluknya tiada mau berpisah lagi. Kuangkat lagi, berdesis lagi, sampai sandal yang mungkin puluhan kali lebih berat dan besar itu ikut menggantung di udara.
Sudahlah, kutinggal mereka, biar saja bercumbu-peluk sampai pagi.
Keesokan pagi, kumatikan lampu, kubuka pintu. Sandal itu masih di sana, si kumbang entah di mana.
Aku jadi bertanya-tanya, kenapa kumbang bentuknya seperti itu. Memang dia kuat, tapi di permukaan yang datar, kala tersungkur, mustahil dia bisa membalikkan badan sendiri tanpa ada benda apapun di sekitarnya.
Kenapa wahai Pencipta kumbang?
Hewan berbadan keras yang mendesis kala terancam itu, hewan yang entah kenapa pula suka pada cahaya terang, hewan yang kuat mengangkat benda puluhan kali berat dan besar tubuhnya
Kenapa wahai Pencipta kumbang?