Seringkali seperti petir, kilatnya datang duluan lalu dentumnya belakangan. Begitulah kupikir bagaimana ide-ide baru yang muncul tanpa peduli waktu dan tempat. Entah di boarding room kala menunggu pesawat, di toilet dan duduk sambil memandang pintu atau langit-langitnya, kala ngobrol dengan orang lain dan muncul satu - dua kata kunci yang memantik, intinya bisa saja di manapun dan kapanpun.
Namun, layaknya petir, kilat ide itu muncul tetiba, lalu baru dipikirkan kemudian dalam dentumnya. Salah satu kelemahan yang kukira dialkoni banyak orang adalah sama dengan memperlakukan petir itu, mencengangkan walau sekejap - setelah itu ya hilang begitu saja seolah tidak terjadi. Hal ini berathun-tahun saya alami, sampai ketika aku membeli buku tulis yang sebenarnya untuk mencatat poin-poin penting ketika wawancara di lapangan penelitian.
Ada kalanya kita mengalami kegabutan dalam teknis pelaksanaan wawancara, semisal menunggu para pejabat yang penting itu, kita terpaksa menunggu di bangku depan ruangannya, atau juga bisa di taman dan di luar gedung sama sekali. Pada waktu-waktu itulah, corat-coret di buku tulis terjadi, entah sekedar membuat doodle atau coretan tak berarti sekalipun. Dari sana, tak sengaja saya membuat daftar pertanyaan yang sering muncul di benak, kala itu seperti begini:
kalau saya saja yang punya surat penelitian perlu waktu lama untuk bertemu pejabat, bagaimana dengan warga di sini yang memang punya hak untuk dilayani?
Maka, terkembanglah berbagai pertanyaan-pertanyaan lain, juga tentang pengamatan apa saja yang saya lihat. Intinya, saya menjadi terpanggil kembali pada masa-masa kuliah dulu, di lapangan penelitian - dan rakus tentang rasa keingintahuan.
Beberapa minggu lalu saya teringat dengan quotes dari Walter Benjamin :
"The more circumspectly you delay writing down an idea, the more maturely developed it will be on surrendering itself. Speech conquers thought, but writing commands it"
Dan memang tepat saya pikir sabda dari Walter Benjamin itu, sekian lama perbincangan dan diskusi tanpa adanya tindak lanjut penulisan membuat ide-ide itu perlahan memudar. Belum lagi ketika bicara dengan lawan diskusi yang notebene punya tabiat buruk seperti mencuri ide (tapi ini debatable sebab memang harus saya akui, omongan tanpa tulisan macam ikan di sungai, bisa ditangkap siapa saja). Berulang kali hal tersebut saya alami, dan saat ini kiranya adalah waktu yang tepat sekalipun sudah terlambat, untuk memulai menulis ide apapun yang menyambar seperti kilat itu, agar dentumnya tetap dapat saya rasakan-dengar, dengan membaca dari tiap huruf yang saya tulis.
Dan semua ini tidak butuh modal banyak, punya handphone, laptop, atau mungkin hanya pena dan buku tulis? itu sudah cukup. Namun hal yang secara implisit dari perkataan Walter Benjamin itu perlu digaris-bawahi, bahwa soal menulis gagasan itu, tidak hanya berhenti pada saat itu juga, namun perlu follow-up dengan membaca dan bila perlu menyediliki lebih dalam agar memeroleh revelation.
Tulis! Tulis! dan Tulis! itu saja yang perlu dilakukan saat ini, entah berguna saat ini atau nanti di kemudian hari, lebih baik untuk mendokumentasikan itu semua dalam tulisan. Karena memang seperti kata penulis satu ini :
Anthropological fieldwork is so much like writing a novel. You don't know what the hell is going on - Lily King