Memanjat rejeki, Sialang di tengah Eucalyptus

Berkilo meter jalan tanah merah nan silau dibawah teriknya matahari kami lewati guna menuju “pulau hutan tropis” ditengah lautan akasia dan eucalyptus konsesi perusahaan paper pulp ini.  Berbaris dengan rapi pohon akasia dan eucalyptus ini mengingatkanku pada barisan kursi hijau di stadion sepakbola. Saking rapinya, cukup mengherankan dan membuat bertanya apakah ini benar-benar hutan ?. Dari pinggir jalan tanah merah ini terliat menjulang satu dua pohon di kelilingi pohon lain yang semwramut, di sana lah tujuan kami : hutan tropis Sumatra atau setidaknya yang masih tersisa darinya.  Satu jam telah kami tempuh dan tujuan kami tak lain menemui satu pohon yang sudah menengok dari kejauhan karena tingginya itu.

Pohon Kayu Batu, salah satu dari beberapa jenis pohon yang gemar dihinggapi lebah. Mereka membuat sialang atau sarang yang kaya akan madu. Selain Kayu Batu pohon yang gemar menjadi sialang bagi lebah hutan ini adalah pohon Kayu Aro (Kayu Ara di Kalimantan), Sepodiah, Keruing, Kempas, Rengas, dan Kedodong hutan. Sayang sekali Pohon Kayu Kempas sudah punah di daerah ini setidaknya sejak satu dekade yang lalu. Di daerah ini, silang tidaklah liar dan bisa di panen sembarang orang, mereka dimiliki oleh perorangan atau kelompok – jika masuk dalam wilayah ulayat kenegrian.

Adalah Pak Dede, orang dari Teluk Paman ini merupakan si empunya sialang di Kayu Batu yang akan kami panen. Dia memiliki sialang tersebut turun-temurun dari orang tuanya yang dulu membeli lahan di hutan sebelum perusahaan konsesi memeroleh ijin produksi di sana. Pak Dede menjelaskan jika silang saat ini sudah dilindungi oleh hukum dan barangsiapa yang menebangnya dapat didenda sampai ratusan juta rupiah.

Pak Dede sendiri tidak bisa memanen sialang miliknya itu, maka dia meminta tolong pada dua orang pemuda berumur 26 tahunan dari Teluk Paman yang sudah dikenal piawai memanen sialang. Mereka tak lain adalah Dede dan Mizon, kedua pemuda ini sangat piawai dalam memanjat dan mengumpulkan madu sialang.

Madu sialang memiliki warna dan rasa yang berbeda-beda tergantung dari pohon atau bunga yang ada di sekitarnya. Menurut Dede dan Mizon di sekitar akasia dan eucalyptus ini, madu sialang berwarna kuning dan rasanya manis, di sekitar kelapa sawit madu berwarna hitam dan agak pahit, sedangkan di hutan yang masih beragam pepohonannya berwarna kuning bening dan terasa agak anyir.

Kami berjalan sambil sesekali mematahkan ranting eucalyptus yang sudah mengering itu. Dari rapinya tanaman industri menuju pulau hutan sangat terasa kontras. Renggang ditiap meter tanaman industri amat berbeda dengan rapatnya hutan tropis Sumatra. Sesekali Dede dan Mizon harus mengeluarkan parang dari sarungnya menebas satu dua pohon paku dan pohon berduri yang malang melintang.

Terdapat aliran sungai kecil di bawah Kayu Batu berdiam. Dari kejauhan terdengar teriakan elang-elang yang tak mau tinggal diam. Burung itu dan juga beruang adalah ancaman bagi keberadaan sialang. Mengantisipasi hal tersebut, manusia tak kurang akal. Di Kayu Batu itu dipasangnya seng melingkar selebar satu-dua meter menghalau beruang yang jelas suka madu sialang. Tak hentinya kedua pemuda pemanen ini meneriaki elang agar pergi menjauh dari calon rejeki mereka hari ini.

Dede dan Mizon memulai ritual panen madu dengan membersihkan setiap alat yang mereka bawa di sungai, mencuci jerigen, membasahi masker dan sarung tangan. Selanjutnya mereka menyiapkan tali, dan memakai baju berlapis tiga sampai empat. Tangan mereka nampak besar karena tiga lapis sarung tangan.  

Kali ini Dede yang akan memanjat, sebelumnya dia sudah melihat berkeliling pohon sambil memilih sialang mana yang akan di panen. Di pohon Kayu Batu ini terdapat belasan sialang yang tidak semuanya menghasilkan madu, begitulah kata Dede.
Setelah semuanya siap, Dede berdoa bertumpu pada akar Kayu Batu yang besar itu. Sementara Mizon dari kejauhan menjadi makmumnya. Dede sudah bersiap memanjat pohon itu berselempang jerigen dan parang.

Mereka lantas menyuruh kami menjauhi lokasi pohon ke tempat yang aman.
Bergegas, aku dan beberapa orang lain yang masih disana lantas menjauh. Sekitar 200 meter kami bersembunyi di balik lebatnya pohon di hutan ini. Dari kejauhan elang masih bersahutan seakan tak rela calon makanan mereka diambil Dede.

Suara berdengung lebah hutan itu nyaring terdengar ketika Dede mulai menepuk sarang mereka dengan parang. Dede lantas berlanjut menuju sarang lainnya dan tidak memotong sarang yang sudah ditepuknya itu. Artinya sarang itu belum ada madunya.

Sebelumnya aku sudah pernah melihat proses panen madu lebah hutan di Kalimantan, bedanya di sana orang menggunakan asap dari pembakaran dedaunan. Proses panen madu di Kalimantan dilakukan pada malam hari dan semua sarang dipotong habis, namun di sini aku agak heran kenapa sialang tak dipotong habis.

rugi pulak kita ambil yang kosong San. Kalu itu dipiara barang satu dua bulan, awak untung besar dan lebi lestari pulak kuah !” begitulah si pemilik sialang yang juga karyawan perusahaan pemilik konsesi  ini menjelaskan.

Hampir satu jam Dede di atas, sementara Mizon mengumpulkan sarang yang berceceran di bawah. Si pemilik sialang dari kejauhan berteriak apakah dapat banyak namun mereka berdua hanya tertawa.
biasanya kalau mau dapat rejeki mereka dua tiga kali pindah sialang langsung turun, ini sudah lima kuhitung tak turun pulak mereka” kata si pemilik sialang.

Akhirnya Dede turun dan kami pun menuju keluar dari hutan. Kami berkumpul di sela-sela eucalyptus. Dengan tertawa Dede dan Mizon tak henti henti membicarakan ramalan ibu Dede yang bermimpi akan mendapat rejeki banyak bagi anaknya.

“Zonk” itu lah kata pertama Dede ketika sampai menuju tempat kami menunggu.
“Itulah, kau tanya mamakmu itu De kenapa bisa meleset mimpinya” ucap Mizon dengan diiringi tawa semua orang.

Aku melihat mereka membawa satu ember saja sarang lebah yang masih putih namun diujungnya kuning. Kelihatannya memang meleset mimpi dan ramalan itu.

Mereka dua bercanda dari datang sampai selesai. Kata Pak Dede mereka melakukan itu agar menghibur hati yang kecewa tak dapat banyak madu. Mulai dari mengutuki mantan istrinya yang selingkuh, sampai entah si pulan dari daerah mana menjadi bahan bercandaan Dede dan Mizon. Kelakar tawa terus terdengar sambil sesekali terdengar suara elang yang terus berputar di atas sana.
Semua sarang madu yang diperoleh lantas diperas oleh Mizon, satu-dua ekor lebah menyengat tangannya namun jarum sengat lebah itu hanya dicabut Mizon macam mencabut duri dari daging ikan, mudah saja. Wajah Mizon pun tak memerlihatkan ekspresi kesakitan, malah dia tertawa bercanda mengenai sengatnya yang bisa membuat istrinya kesakitan.

Satu botol air mineral berukuran 1,5 liter, itulah madu yang diperoleh dari memanen sialang hari ini. Dan itu diberikan cuma-Cuma oleh Dede dan Mizon kepada Pak Dede si pemilik. Jika hasilnyak mereka berkata biasanya akan dibagi dua, setengah untuk pemilik dan setengah untuk pemanen. Harga Madu sialang di Kampar saat ini berkisar 80-100ribu rupiah / liternya. Pernah suatu ketika Dede dan Mizon bercerita memeoleh penghasilan 35juta dalam sebulan memanen sialang, namun itu hanya terjadi di musim-musim yang baik saja, biasanya menjelang akhir tahun kata mereka. Hasil yang sedikit untukpanen kali ini menurut mereka karena musim yang tak menentu, hujan turun semau-maunya.


Kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi, kalau ada bertemu sialang jangan lupa beryukur, itu rejeki. 





















Kampar, Riau - Februari 2017.