After Dark.
Pertama, saya sangat berterima kasih pada kekasih saya yang sudah membelikan novel ini, dan beberapa novel Murakami lainnya - yang tentu saja sudah lama saya idamkan.
Novel kurang dari kisah satu hari ini, membawa saya pada "dunia malam" yang bisa dikatakan biasa saja - atau, sebaliknya tidak biasa.
Di akhir cerita, saya menemui sebuah fakta yang sedikit mengecewakan untuk dunia nyata - dunia yang kita alami sehari -hari. Bahwa putri tidur - atau putri salju, dalam mitos yang hidup selaa ini akan terbangun pada suatu momen ketika dia bertemu dengan pangerannya, tidak terjadi dalam dunia nyata. Di dunia ini, putri tidur itu tetaplah lelap, terjebak dalam mimpinya sendiri. Sementara di luar sana, dunia di luar mimpi, orang beraktivitas - terjaga.
Ketika gelap datang - kondisi yang kita ketahui sebagai terbenamnya matahari itu, beberapa balon kecil mulai hidup, memancarkan cahaya bagi orang - orang yang masih terjaga. Sebagian besar lainnya mulai terlelap, beristirahat dalam cangkang - cangkang yang biasa kita sebut sebagai rumah. Di lain hal, beberapa orang terjaga, hidup di ruang - ruang yang memang sengaja hadir untuk mereka : Kafe, Club, Love - Ho, bahkan taman sekalipun.
Di ruang itulah, orang -orang berkelindan satu sama lain. Dalam bentuk relasi yang kadang absurd, se -absurd berjalan dalam gelapnya malam, orang -orang absurd ini membalik keadaan, siang menjadi malam, malam menjadi siang. Mereka mengejar satu hal dalam melakukan itu : memuaskan diri mereka, entah dengan pergi ke hotel untuk bercinta dengan pekerja seks, minum kopi untuk membunuh waktu, berjalan di taman untuk berdekatan satau sama lain.
Saya merasa, kehidupan semacam ini lumrah terjadi dalam keseharian saya. Terutama minum kopi di kafe. Kami, sebenarnya tak lebih dari orang yang membalik relasi terang dan gelap, di malam hari kami belajar, bekerja, saling bertukar ide, bercengkrama satu sama lain. Di siang hari tak jarang kami terlelap. Apa artinya ?
Hal semacam itu, tidak terlalu saya sadari sebelumnya. Bukan karena saya buta untuk melihat hal itu, tapi karena saya tidak jeli dalam melihatnya. Murakami dalam hal ini terlalu selo, melihat detail dunia malam yang entah lumrah di Jepang sana atau tidak.
Dan saya teringat dengan perkataan seseorang di desa tempat saya riset dulu : "apa bedanya orang begadang dengan minum alkohol ? tidak ada sama sekali, sama-sama ngelantur". Beranikah kita bertanya lebih jauh, "apakah kita hanya ngelantur di malam hari saat begadang, atau sebenarnya kita ngelantur setiap saat ?".
Detail, sekali lagi, itu yang membedakan antara yang memahami dan yang sekilas melihat. Setidaknya ini yang aku pelajari dari novel ini.