90 detik di penjara

Aku mengarah menuju utara kota di petang ini. Seperti biasa, perempatan jalan utama berada di tengah perjalanan. sebuah kafe adalah tujuanku petang itu, aku membayangkan secangkir coklat hangat untuk menghilangkan penat sehari ini. Belum sampai di sana, aku terhenti di perempatan jalan utama itu. Lampu merah menyala, sebuah panel digital yang besar itu menyala berikut dengan angka 90 yang berwarna merah itu. Angka itu setiap detiknya berjalan mundur sampai nol, selama itu setiap detik dan pergantian angkanya mengisyarakatkan derita. Setiap orang yang ada, entah mereka dengan naik sepeda motor atau mobil, terdiam. Raut wajah mereka seakan-akan berkata tentang penatnya hari, tentang kerisauan, tentang semua hal yang membuat mereka resah.
Citra Panorama dan Galeri yang besar, itu yang aku dan mungkin orang-orang lain bayangkan selama 90 detik ini. Di depan ku, di hadapan semua orang yang menunggu nol, terpampang berbagai gambar yang besar. Ada gambar yang menyarankan untuk membeli sepeda motor yang bagus, ada yang menawarkan pendidikan anak sekaligus pendidikan agama, ada yang mengucapkan terima kasih atas kemenangan seorang calon legislatif, berbagai makanan yang kelihatannya lezat juga ada gambarnya. Mungkin itu menarik bagi orang-orang yang ikut berhenti di perempatan ini, namun bagiku itu adalah penjara.
Sekarang sudah menginjak angka 49. Aku sedikit senang karena penantian segera berakhir, namun aku masih merasa kaku. Bau asap knlapot kendaraan yang ada di samping, depan dan belakang ku, terbawa angin menuju lubang hidungku. Dan itu belum selesai, panas dari aspal yang seharian bermandi panas matahari, bercampur dengan panas kendaraan, semua itu seakan menjerat leherku dalam tali yang sulit diurai. Dalam keadaan itu, seperti orang mati, aku menengadah ke atas, hanya langit kusam  dan banyaknya cahaya lampu gambar dan galeri itu membuat langit agak berwarna kekuningan.
32. aku menemukan setitik cahaya menggantung di sana. Denyutnya lemah, mengingatkanku pada tikus yang sekarat terlindas kendaraan di jalan tadi. Dia masih hidup namun tak berdaya, semua ususnya tercecer keluar, darahnya berubah menjadi hitam bercampur debu. Lalu lalang kendaraan masih berlangsung, dan tak ada yang memperhatikan tikus itu menjerit dalam menuju ajalnya. Aku sendiri merasa hanya aku yang menengaha di antara puluhan orang yang berbaris menunggu nol. Mereka sepertinya tidak tahu ada setitik cahaya yang menawarkan kebebasan nun jauh di sana. Setitik cahaya yang memikat, membuat orang sepertiku berpikir di antara warna-warni gambar yang ada di depanku juag dengan kata manis penuh metafor itu di dalamnya.
Depalan belas detik berlalu sejak akumelihat bintang di langit yang kekuningan itu. Cahayanya mendistorsi waktu, membuatnya sangat relatif cepat  bahkan dalam penantian. Cahayanya masih berdenyut, menarikku dalam teka-teki besar di antara kuning langit namun menyimpan sesuatu yang dingin dengan tekanan yang besar. Orang-orang di sekitarku masih terdiam, tidak berbicara sama sekali. Yang mereka dengar adalah suara kendaraan yang statis, yang mereka hirup adalah asap kendaraan, yang mereka lihat adalah galeri gambar iklan yang menjerat. Mereka entah terpaksa atau menikmati semua itu, merasa tunduk tak berdaya. Lampu-lampu besar yang tinggi, menyoroti semua orang dibawahnya, membuat mereka enggan menengadah ke atas. Mereka hilang dalam lamunan. Mereka tak berhasil menemukan setitik kebebasan yang ditawarkan oleh denyut cahaya bintang.
1 . Suara kendaraan di sekitarku semakin mengeras, orang-orang mulai gusar. Agaknya mereka mulai bangun dari guna-guna. Dalam kondisi seperti ini mereka menjadi sensistif, satu sentimeter posisi roda di aspal bisa menjadi penting. Angka 1 menjadi angka yang paling panjang, semua orang menunjukkan kuasanya. Antara mobil, motor bebek biasa, motor sport dengan knalpot racing, semuanya memendarkan partikel udara dengan ciri khas masing-masing. Mereka unjuk taring. Namun bintang itu dan cahayanya yang berdenyut, masih di sana. Tak bergeming sedikit pun dengan suara yang ada. Warna-warni gambar iklan, kekuatan metafor kata-katanya hilang.
Nol. Semua orang bergegas, tak peduli lagi dengan jarak dan aspal, suara, gambar, juga cahaya. Mereka menuju arah masing-masing, mungkin ada yang pulang, ada juga yang mau bermain, aku tak tahu. Aku sendiri kembali pada tujuan awalku, coklat hangat. Namun ada sedikit perubahan rencana, aku memilih menikmati hangatnya coklat dan aromanya yang memikat itu dengan teman baru ku : bintang. Denyut cahayanya tak bisa kulupakan, dia menawarkan teka-teki besar, dia memberiku kesadaran dari jeratan iklan, bising suara dan panasnya kendaraan, juga pada cahaya lampu yang menundukkan semua orang. Meski aku tak bisa mengenalnya lebih baik, mungkin besok siang aku juga tak bisa melihatnya lagi, namun dia tampil setiap malam, secara berkala dia seperti denyut cahayanya menyalamiku dengan hangat. Andai engkau berwujud orang wahai bintang, mungkin banyak orang yang akan terbangun dari guna-guna. 

Yogyakarta, Kamis 22 Mei 2014,